Senin, 04 Mei 2026

 

EFEKTIVITAS KEGIATAN EKSTRAKURIKULER MUHADHARAH

UNTUK MENINGKATKAN  KECAKAPAN PUBLIC SPEAKING SISWA 

DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 27

KABUPATEN TEBO





BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari bahasa. Karena bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat. Alat komunikasi tersebut berupa lambang bunyi serta suara. Suara tersebut dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bagaimanapun wujudnya, setiap masyarakat pastilah memiliki bahasa sebagai alat komunikasi. Sebagai makhluk sosial, setiap orang yang hidup dalam suatu kelompok, dalam menjalani aktivitas kesehariannya sejak ia bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali pada malam harinya senantiasa terlibat dalam kegiatan komunikasi. Bila kita amati lebih teliti mengenai aktivitas manusia dalam menjalani kehidupan kesehariannya itu, maka sebagian besar diisi dengan kegiatan berkomunikasi, mulai dari mengobrol, membaca koran, mendengarkan radio, menonton televisi atau bioskop, dan sebagainya. ini membuktikan bahwa, dalam tatanan kehidupan sosial manusia, komunikasi telah menjadi jantung kehidupan. (Zikri Fachrul Nurhadi dkk, 2017; hal. 90).

 Sebagaimana yang sudah kita ketahui, bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari pihak pemberi kepada pihak penerima (Adha, 2014; hal. 6). Seseorang yang memiliki keterampilan berbicara mudah dalam menyampaikan pesan, ide, dan gagasan kepada orang lain, keberhasilan menggunakan pesan, ide, dan gagasan itu dapat diterima oleh orang yang mendengarkan atau yang diajak bicara. Sebaliknya seseorang yang tidak memiliki keterampilan berbicara akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide gagasannya kepada orang lain.

  Di era globalisasi saat ini kemampuan untuk berbicara sangat
dibutuhkan baik berbicara dalam konteks resmi maupun tidak resmi, karena seseorang mampu menyampaikan apa yang dikehendakinya melalui bicara. Kemampuan seseorang untuk berbicara biasanya tidak sama, tergantung bagaimana orang tersebut mampu berfikir secara kritis dalam menghasilkan              


kata-kata sehingga masih banyak orang yang sulit untuk berbicara di depan umum dalam menyampaikan sesuatu. Namun, banyak orang yang menganggap hal tersebut tidak penting. Padahal sangat penting untuk menguasai bahasa agar dapat menyampaikan pesan, ide, dan gagasan kepada orang lain. Apalagi tidak mudah untuk mahir berbicara di depan umum tanpa adanya pengalaman dan wawasan yang luas. Untuk itu perlu adanya dorongan motivasi agar lebih berani untuk tampil berbicara didepan umum.

Untuk mencapai keberhasilan berbicara di depan umum  tersebut maka diperlukan adanya pengembangan potensi  yang terus menerus  kepada generasi-generasi muda. Dan salah satunya dengan mengadakan pengembangan potensi peserta didik yang tak lain adalah generasi-generasi muda Islam sejak dini. Pengembangan potensi peserta didik ini dapat diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler, yakni kegiatan ekstrakurikuler muhadharah. 

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran tatap muka yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah untuk memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum. (Wahyuddin Nur, 2017; hal. 79). Berdasarkan definisi tersebut, maka kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah yang terkait dengan tugas belajar suatu mata pelajaran bukanlah kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler memiliki makna dan tujuan yang sama. Seringkali kegiatan kokurikuler disebut juga sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Bahkan mereka lebih menyukai dengan sebutan kegiatan ekstrakurikuler.

Muhadharah yaitu untuk mendidik para siswa agar terampil dan mampu berbicara di depan khalayak untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam di hadapan umum dengan penuh percaya diri. Firman Allah SWT dalam surat Ali-Imran yang berbunyi:




كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ.....  (ال عمران : 110)

Artinya: Kamu (umat islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ( Q.S Ali Imran; 110)


 Ayat di atas mejelaskan bahawa untuk mencapai maksud tersebut perlu adanya segolongan umat islam yang bergerak dalam bidang dakwah. Karena pada ayat ini diperintahkan agar supaya diantara umat islam ada segolongan umat yang terlatih di bidang dakwah yang dengan tegas menyerukan kepada kebaikan menyeru kepada yang makruf (baik), dan mencegah dari yang mungkar (keji). Jelas ayat diatas memerintahkan kepada umat islam untuk menjadi umat yang pandai menyampaikan, mengajak, menyeru dan mencegah kepada kebaikan dan mencegah kepada yang mungkar. Artinya umat harus pandai menyampaikan dengan bahasa yang baik dan santun agar orang lain dapat menerima seruan itu dengan baik. Salah satu cara untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran yaitu di adakannya kegiataan muhadharah dalam dunia pendidikan.

  Dalam Muhadharah para siswa dituntut untuk berbicara serta berpidato dengan penguasaan teknik, materi, dan gaya bahasa dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, salah satu kemampuan  yang harus dimiliki siswa adalah kecakapan public speaking. Melalui kegiatan ekstrakurikuler diharapkan siswa lebih mendalami bakat yang mereka miliki dan dapat menambah kualitas skill yang ada pada diri siswa. 

 Istilah public speaking berawal dari para ahli retorika, yang mengartikan
sama yaitu seni (keahlian) berbicara atau berpidato yang sudah berkembang sejak abad sebelum masehi. Dalam sejarahnya yang panjang, istilah public speaking lebih dikenal dengan sebutan retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari bahasa Yunani rhet yang berarti orang terampil dan tangkas dalam berbicara. Pengertian retorika berkembang meliputi kemahiran

melahirkan suatu gagasan, pandangan, pendapat, kelancaran berbicara, kepiawaian mempengaruhi orang banyak dengan kata-kata, daya kreasi dan improvisasi (Siti Asiyah, 2017; hal. 200). 

Seiring dengan kemajuan zaman yang makin canggih dan dinamika era globalisasi, lingkungan interaksi pergaulan remaja juga sangat mempengaruhi. Seperti makin majunya teknologi yang memunculkan berbagai aplikasi sosial media yang sebenarnya jika tidak benar-benar pandai memilah informasi dan cara penggunaannya maka akan terjerumus kepada arah yang lebih buruk. Adanya arus yang sedemikian rupa menyebabkan remaja terkesan sesuka hati dalam mengekspresikan perasaan melalui lisannya (melalui berbicara). 

Dengan demikian, setiap orang harus mampu berinteraksi dan memiliki kepedulian terhadap orang lain. Salah satunya dengan mahir dalam beronterkasi dan berbicara dengan sesama didepan umum. Adapun ketidakmampuan berkomunikasi dapat menyebabkan sesorang tidak percaya diri ketika ia tampil didepan umum.

 Bagi mereka yang memiliki rasa takut untuk berbicara di depan public akan muncul rasa panik yang mengganggu pikiran. Salah satu penyebab hal ini adalah karena kurangnya pengetahuan tentang pidato,latihan dan membiasakan berbicara di depan umum.

SMPN 27 KabupatenTebo adalah salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri yang terletak di Kecematan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. SMPN 27 merupakan lembaga pendidikan menengah pertama yang dikepalai oleh Saliman S.Pd. SMPN 27 menggunakan kurikulum K13 yaitu, dengan diterapkan kurikulum ini agar generasi Indonesia memililiki kompetensi yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan Belajar Mengajar dimulai pukul 07.15 wib.  sebelum Kegiatan Belajar Mengajar dimulai terlebih dahulu dilaksanakan literasi yakni didalamnya meliputi membaca Al-Quran, membaca Asmaul husna, dan meringkas buku pengetahuan yang telah dibaca oleh siswa. Di SMPN 27  Tebo telah menerapkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler untuk menggali dan mengembangkan potensi peserta didik, salah satu ekstrakurikuler tersebut adalah Muhadharah, yakni latihan pidato. Yang mana dari kegiatan tersebut diharapkan peserta didik terbentuk rasa percaya dirinya sehingga mampu berbicara dan berkomunikasi dengan baik ketika berada didalam maupun luar kelas, ketika pembelajaran maupun ketika berhadapan dengan orang banyak diluar kelas.

 Muhadharah ini dilaksanakan dengan maksud agar mereka memiliki keberanian untuk tampil dan berbicara di depan public dengan penuh percaya diri dan meningkatkan kecakapan  public speaking yang pesarta didik miliki. Adapun pelaksanaannya diadakan di mushola SMPN 27 Kabupaten Tebo secara rutin  yaitu seminggu satu kali, dilaksanakan bergiliran setiap kelas  yaitu pada hari jum’at pagi sebelum Kegiatan Belajar Mengajar dimulai. Kegiatan ekstrakurikuler muhadharah yaitu ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua siswa. 

Melalui Muhadharah ini para peserta didik dilatih untuk berbicara menyampaikan pidato di depan teman-teman dan gurunya secara bergantian layaknya seorang da’i yang sedang menyampaikan pesan-pesan dakwah. Namun sebagian peserta didik menganggap bahwa kegiatan muhadharah ini kurang menarik, membosankan dan terlalu banyak aturan, sehingga peserta didik yang mempunyai kecakapan public speaking kurang dikembangkan skill nya dengan baik. Kegiatan muhadharah ini tidak diperuntukkan hanya untuk siswa yang mempunyai  skill public speaking saja, melainkan untuk seluruh siswa SMPN 27 Tebo. Karna tujuan adanya kegiatan ekstrakurikuler muhadharah ini tidak hanya berdakwah ataupun berpidato tetapi juga melatih siswa untuk mempunyai kemampuan public speaking sejak dini.

Berdasarkan hasil pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti di SMPN 27 Kabupaten Tebo, terlihat bahwa: pertama, siswa cenderung malas untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Muhadharah. kedua fenomena kurangnya rasa semangat dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, ketiga siswa tidak disiplin ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dibuktikan dengan masih bermain dan kurang serius ketika kegiatan muhadharah berlangsung. Sehingga, dari latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul Efektivitas Kegiatan Ekstrakurikuler Muhadharah Untuk Meningkatkan kecakapan Public Speaking Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri  27 Kabupaten Tebo”

  1. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti akan berfokus pada kelas VIII. Kelas VIII di SMP N 27 Kabupaten Tebo menjadi 3 kelas yaitu kelas VIII A, B, dan C. Sedangkan penelitian ini akan berfokus pada kelas VIII C yang berjumlah 30 siswa.


  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas , maka yang menjadi pokok permasalahan adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana efektivitas kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo?

  2. Apakah kendala  kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo?

  3. Bagaimana solusi yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo?

  1. Tujuan Penelitian

  1. Ingin mengetahui efektivitas kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo

  2. Ingin mengetahui kendala kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa  di SMPN 27 Kabupaten Tebo

  3. Ingin mengetahui solusi yang dilakukan oleh guru dalam melaksaanakan kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo.


  1. Manfaat Penelitian

  1. Untuk menambah khazanah  keilmuan PAI  bagi peneliti, pembaca dan para pihak terkait 

  2. Untuk memperkaya informasi bagi lembaga pendidikan FTK dan UIN STS Jambi

  3. Untuk memperbaiki dan inovasi SMPN 27 Kabupaten Tebo agar lebih kreatif mengembangkan  pendidikan. 

BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA

  1. Kajian Teori

  1. Efektivitas

    Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seperapa jauh target dapat tercapai. Pendapat tersebut menyatakan bahwa efektivitas merupakan suau ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target yang telah ditetapkan sebelumnya oleh lembaga atau organisasi dapat tercapai. Hal tersebut sangat penting peranannya di dalam  setip lembaga atau organisasi dan  berguna untuk melihat perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh suatu lembaga atau organisasi itu sendiri (Sedarmayanti, 2006; hal. 61).

Menurut Ravianto efektivitas ialah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan sesuatu sesuai yang diharapkan. Artinya apabila sesuatu pekerjaan dapat diselesaikan sesuai dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya, maupun mutunya maka  baru dapat dikatakan efektif ( Ravianto, 2014; hal.11)


  1. Ekstrakurikuler

Ekstrakurikuler menurut wiyani dalam noor yanti kegiatan ektrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan aspek-aspek tertentu dari apa yang ditemukan pada kurikulum yang sedang dijalankan, termasuk yang berhubungan bagaimana penerapan sesungguhnya dari ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh peserta didik sesuai dengan tuntutan kebutuhan hidup mereka maupunlingkungan sekitarnya (noor yanti, 2012; hal.218). Kegiatan ekstrakurikuler secara tidak langsung dapat mempengaruhi motivasi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dalam kelas, dengan siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler berarti sudah melatih siswa untuk berani dan mau menunjukkan bakat dan keinginan yang tersimpan dalam dirinya. Dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang diikuti oleh para siswa diharapkan dapat membantu mengatasi masalah-masalah yang sering muncul dalam proses dikelas, 

Membantu mengatasi masalah- masalah yang sering muncul dalam proses pembelajaran dikelas, masalah tersebut antara lain: Siswa kurang aktif dalam kelas, cenderung pasif dan menanti perintah dari guru, kurangnya motivasi belajar bagi siswa, kurang mampu menerima pelajaran dengan baik, prestasi belajar siswa kurang memuaskan, karena belum sesuai dengan harapan pembelajaran (Wahyuddin Nur Nasution dkk, 2017; hal. 79-80)

Ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan diluar jam pelajaran yang ditunjukan untuk membantu perkembangan peserta didik, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh peserta didik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan atau berkewenangan di sekolah. 

Berdasarkan permen no 62 tahun 2014 kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik diluar jam belajar kegiatan  intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, dibawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan, bertujuan untuk mengembangkan potensi,bakat,minat kemampuan, kepribadian, kerjasama dan kemandirian peserta didik secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan ekstrakurikuler merupakan kegiatan peserta didik yang dilakukan diluar jam pelajaran dibawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat dan kemampuan, kepribadian, kerjasama dan kemandirian peserta didik secara optimal. Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan diluar kelas dan diluar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki pesertadidik baik berkaitan dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapatkannya (Depag, 2002; hal. 13-14)

Dalam pengertian khusus yakni untuk membimbing siswa mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang wajib maupun pilihan Menurut Jamal Ma’mur Asmani Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu mengembangkan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah dan berwenang di sekolah.Visi kegiatan ekstrakurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal (Jamal Ma’mur Asmani, 2012; hal. 62-63).

Asep Hery H mengemukakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran biasa dan pada waktu libur sekolah yang dilaksanakan baik disekolah maupun diluar sekolah ( Asep Heri, 2016; hal. 124). Zainal Aqib dan Sujak mengemukakan bahwa ekstrakurikuler merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan diluar jam pelajaran biasa dalam suatu susunan program pengajaran, disamping untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalamprogram kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan juga untuk pengayaan wawasan dan sebagai upaya pemantapan kepribadian.

Menurut Muhammad Zaini  kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan untuk memenuhi tuntutan penguasaan bahan kajian dan pelajaran dengan alokasi waktu yang diatur secara tersendiri berdasarkan pada kebutuhan ( Muhammad Zaini, 2009; hal. 198). Jadi dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran yang tidak didapat dalam jam pelajaran seperti yang telah diterapkan di SMPN 27 Kabupaten Tebo. 

Menurut peraturan Menteri pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 62 Tahun 2014 Tentang kegiatan ekstrakurikuler ayat (2) yaitu kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Menurut kajian Anifral Hendri tahun 2008 Tujuan kegiatan ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :

  1. Pengembangan, yaitu kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.

  2. Sosial, yaitu kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik

Berdasarkan pemaparan diatas tujuan dari ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat, dan minat mereka, mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab untuk sekreatif dan persiapan karir. 

Menurut Muhaimin Tujuan dan Fungsi Ekstrakurikuler diantaranya :

  1. Pengembangan, yaitu menyalurkan dan mengembangkan potensi dan bakat peserta didik agar dapat menjadi manusia yang berkreatifitas tinggi dan penuh karya.

  2. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik

  3. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, menggembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang   menunjang proses perkembangan Persiapan Karir yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik (muhaimin, 2002; hal. 75).


Jenis kegiatan Ekstrakurikuler PAI Berdasar Kurikulum 2013 Kementrian Agama RI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Agama Islam jenis kegiatan ekstrakurikuler PAI Berdasar kurikulum 2013 adalah sebagai berikut :

  1. Berkelanjutan 

  1. Pembiasaan Akhlak Mulia

Pembinaan akhlak mulia adalah kegiatan ekstrakurikuler PAI yang dilakukan untuk pengembangan karakter (Character building) keagamaan peserta didik pada tingkat SD, Melalui penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keseharian. Melalui kegiatan pembiasaan, diharapkan peserta didik memiliki karakter dan perilaku keseharian di sekolah, dirumah, dan di masyarakat senantiasa merefleksikan nilai-nilai dan norma ajaran agama islam yang terpuji. Beberapa kegiatan pembiasaan terpuji yang dapat dilaksanakan antara lain: Shalat berjamaah, Sholat Dhuha, tadarusan/tilawah, baca doa pada awal dan akhir pelajaran atau melakukan suatu pekerjaan, mengucapkan dan menjawab salam, menjaga kebersihan dan kesehatan, berperilaku jujur dan adil, memanfaatkan waktu luang untuk kebaikan, tolong menolong dan hormat antar sesama.

  1. Tuntas Baca Tulis Al-Quran (TBTQ) 

Tuntas baca tulis Al-Quran (TBTQ) adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler PAI dan Budi Pekerti yang wajib diselenggarakan dalam rangka memberikan kemampuan membaca dan menulis al -Quran dengan baik dan benar. Kegiatan TBTQ dapat berupa membaca dan menulis Iqra’ dan menghafal huruf-huruf hijaiyah.

  1. Kegiatan Praktik Ibadah 

Kegiatan Praktik Ibadah merupakan implementasi yang mana adalah bagian dari proses penyerahan diri kepada Allah Swt melalui upaya pembiasaan ketrampilan guna meningkatkan kualitas peserta didik dalam melaksanakan komitmen terhadap ajaran islam.

  1. Pembinaan ketrampilan dan Seni PAI 

Jenis ketrampilan yang dapat diajarkan di sekolah untuk dapat dilombakan antara lain: MTQ, Kaligrafi dan hafalan surat pendek, pidato, hafalan do’a, baca sajak, puisi dan kesenian Islam.         

  1. Pembinaan Kerohanian Islam

Kegiatan rohani Islam merupakan ekstrakurikuler yang memfasilitasi peningkatan pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran islam. Kegiatannnya dapat dilakukan dengan pembiasaan: pembiasaan yang bisa menciptakan suasana keagamaan di sekolah.


  1. Temporer

  1. Pesantern Kilat,

 Pesantren kilat adalah kegiatan pesantren kilat yang dilaksanakan pada liburan sekolah dengan waktu yang relatif singkat pada bulan ramadhan atau diluar Ramadhan. Pesantren kilat disebut juga pesantren ramadhan apabila dilaksanakan pada bulan Ramdhan. Tentang waktu pelaksanaan bisa 3, 5, 7 hari atau lebih disesuaikan dengan kebutuhan

  1. Ibadah Ramadhan 

Kegiatan ibadah ramadhan adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan pada bulan suci ramadhan dengan durasi waktu mulai malam pertama shalat tarawih sampai kegiatan halal-bihalal (bersalam-salaman saling memaafkan) yang dilaksanakan dalam nuansa perayaan hari raya idul fitri.

  1. Wisata Rohani  

Wisata Rohani adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk outbond yang ditujukan sebagai wahana hiburan yang menyenangkan sekaligus meperoleh pengetahuan dan pengalaman religius yang bermanfaat. Dengan mengacu pada pendekatan dan prinsip belajar aktif dan menyenangkan perlu diadakan kegiatan wisata rohani bagi peserta didik untuk sekaligus menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan keagamaan.

  1. Peringatan Hari Besar Islam 

Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) adalah kegiatan memperingati hari besar islam dengan maksud syiar islam sekaligus menggali arti dan makna dari suatu hari besar islam.Hari Besar Islam yang dimaksud antara lain Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzulul Quran, tahun baru islam atau muaharam, Idul Fitri dan Idul Adha.

  1. Kegiatan Keagamaan berbasis kearifan lokal 

Kegiatan keagamaan yang berbasis kearifan lokal dilaksanakan dalam rangka memfasilitasi terbangunnya kegiatan keagamaan yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal setempat ( Kementrian agama, 2014;  hal. 23).


  1. Muhadharah 

Muhadharah berasal dari bahasa Arab, yaitu al-muhadharatu yang berarti ceramah, kuliah. Sebagaimana dipahami bahwa definisi muhadharah diidentikkan dengan kegiatan atau latihan pidato yang ditekankan pada skill siswa. Muhadharah  untuk mendidik para siswa agar terampil dan mampu berbicara didepan khalayak untuk menyampaikan ajaran-ajaran islam dihadapan umum dengan penuh percaya diri. Dalam islam ada dakwah yang harus dilakukan oleh setiap muslim dan muslimah, sesuai dengan potensi dan kemampuan berdakwah melalui tulisan, maka hendaknya ia mengoptimalkan kemampuannya. Demikian pula dengan orang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik, dituntut untuk berdakwah melalui retorika yang mampu memikat jamaah. 

Kewajiban berdakwah tentu bukan hanya sebatas bentuk ketaatan kepada perintah Allah, tapi lebih dari itu merupakan pengabdian kepada kebenaran. Bahwa islam merupakan satu-satunya agama yang benar dan menyelamatkan, maka ajarannya yang luhur harus disampaikan kepada setiap manusia. Seorang da’i haruslah memiliki karakteristik hati yang  ikhlas, mengetahui retorika dan media, memahami isi Al Quran dan Sunnah. Sebagaimana hadits berikut:


وَعَنْ اِبنِ مَسْعُوْدٍ - رضي الله عنه – قاَلَ: قاَلَ رسول الله- صلى الله عليه و سلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرٍ فَاعِلِهِ . رواه مسلم  

Artinya: “Dari Ibnu Mas’ud RA berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: Siapa saja yang menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu.” (HR. Muslim:1893). (Imam An-Nawawi, 2015; hal. 130)


Definisi Muhadharah bisa diidentikan dengan kegiatan latihan pidato atau ceramah yang ditekankan pada skill siswa dalam mengolah tata aturan atau segala hal yang terkait dalam proses tersebut. Kegiatan muhadharah ini bertujuan mendidik siswa agar terampil dan mampu berbicara didepan khalayak untuk menyampaikan ajaran-ajaran islam. Muhadharah adalah termasuk bagian dari dakwah islam yaitu untuk mengajak umat manusia melalui kebenaran jalur ilahi.

 Menurut Asmuni Syukir dalam Samsul Munir Amin kegiatan muhadharah identik dengan khitabah yaitu merupakan pengetahuan yang membicarakan dan mengkaji tentang cara berkomunikasi dengan menggunakan seni atau kepandaian berbicara(berceramah), ( Syukir Asmuni, 2009; hal. 9). Khitabah ini sering dikatakan suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh cirri karakteristik bicara seorang da’i pada suatu aktivitas dakwah. Dalam Muhadharah siswa di ajarkan untuk berceramah dengan penguasaan, teknik, materi, gaya dan bahasa yang baik sehingga mampu menarik pendengar. Melalui kegiatan Muhadharah, siswa dilatih berbicara didepan orang banyak (teman-temannya) layaknya seorang da’i yang sedang berdakwah menyampaikan pesan-pesan dakwahnya.

Melalui aktifitas atau kegiatan ekstrakurikuler Muhadharah ini siswa dilatih berbicara di depan kelas untuk menyampaikan isi pidato dengan maksud agar mereka memiliki keberanian untuk berbicara didepan public. Aktivitas itu sendiri berasal dari bahasa inggris active yang berarti gesit, giat atau bersemangat. Adapun aktivitas dalam muhadharah ini ialah siswa selalu hadir (giat dan bersemangat)   siswa dalam mengikuti setiap kegiatan bimbingan muhadharah yang dilakukan pihak sekolah. 

Muhadharah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses, dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan ini dimaksudkan untuk memberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia kalau dilihat dari segi obyek dakwah maka tujuan muhadharah itu dapat dibagi menjadi empat macam yait

  1. Tujuan untuk perorangan, yaitu terbentuknya pribadi muslim yang mempunyai iman yang kuat, berperilaku dan hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah SWT dan berakhlak karimah.

  2. Tujuan-tujuan keluarga, yaitu terbentuknya keluarga bahagia, penuh ketentraman dan cinta kasih antara anggota keluarga.

  3. Tujuan untuk masyarakat, yaitu terbentuknya masyarakat sejahtera yang penuh dengan suasana keislaman. Suatu masyarakat di mana anggota-anggota mematuhi peraturan-peraturan yang telah disyariatkan oleh Allah SWT. Baik yang berkaitan antara hubungan manusia.       

  4. dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya maupun manusia dengan alam sekitarnya, saling bantu membantu, penuh rasa persaudaraan, persamaan dan senasib sepenanggungan. (Eko Setiawan, 2015; hal. 317)

  Tujuan untuk umat manusia seluruh dunia, yaitu terbentuknya masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan dengan tegaknya keadilan. Persamaan hak dan kewajiban, saling tolong menolong dan saling hormat menghormati. Dengan demikian alam semesta ini seluruhnya dapat menikmati, nikmat Islam sebagai rahmah bagi mereka. Di samping tujuan-tujuan tersebut di atas, terdapat juga tujuan dakwah yang ditinjau dari sudut materi dakwah, yaitu:

  1. Tujuan hukum, yaitu kepatuhan setiap orang terhadap hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Allah SWT, realisasinya ialah orang yang belum melakukan ibadah menjadi orang yang mau melakukan ibadah dengan penuh kesadaran, bagi orang yang belum mematuhi peraturanperaturan agama Islam tentang rumah tangga, perdata, pidana dan ketatanegaraan yang telah diundangkan dalam syariat Islam menjadi orang yang mau dengan kesadarannya sendiri mematuhi peraturanperaturan itu.

  2. Tujuan akhlak, yaitu terbentuknya pribadi yang berbudi luhur, dihiasi dengan sifat-sifat yang terpuji dan bersih dari sifat-sifat tercela (Eko Setiawan, 2017; hal 2-14).


Fanani mengungkapkan bahwa, mengingat jenis-jenis pidato beragam adanya yang sesuai dengan maksut serta tujuan yang hendak dicapai, adapun ciri-ciri tersebut adalah: 

  1. Pidato Pembukaan 

Pidato pembukaan yaitu pidato singkat yang dibawakan oleh pembawa acara atau MC. 

  1. Pidato Penghargaan 

Pidato penghargaan yaitu pidato yang mengarahkan pada suatu pertemuan.




  1. Pidato Sambutan 

Pidato sambutan yaitu pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian. 

  1. Pidato peresmian yaitu pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu Pidato Laporan

Pidato laporan yaitu pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan. 

  1. Pidato Pertanggung jawaban 

Pidato pertanggung jawaban yaitu pidato yang berisi suatu laporan pertanggung jawaban. (fanani, 2013; hal. 28)


 Metode dalam berpidato bisa dilakukan dengan impromptu atau spontan, membuat kerangka atau garis besar, menghafal naskah, atau membaca naskah. Agar dapat berpidato dengan baik, perhatikan langkah-langkah berpidato berikut ini. 

  1. Menentukan topik. Menentukan topik dapat berupa topik bebas atau terikat dengan syarat baru, relevan, dan menarik.

  2. Mengumpulkan data atau opini disertai sumber asal data.

  3. Membuat kerangka-kerangka.

  4. persuasi, ataupun argumentasi. 

           Biasanya, pidato dipraktikkan oleh pemimpin organisasi kepada anak buah organisasinya, dipraktikkan oleh pemimpin atau pejabat negara guna mempermudah adanya komunikasi semokratis, dipraktikkan guna menenangkan massa atau orang yang berpengaruh. Mereka semua diwajibkan untuk menguasai terori pidato sehingga terciptanya keadaan yang aman dan tentram. Mengetahui syarat pidato yang baik akan memudahkan untuk menyusun sebuah pidato yang berbobot baik dalam uraian maupun cara penyampaian. Syarat pidato yang baik meliputi adanya pokok masalah (isi) yang akan diuraikan yang harus dikuasai, memiliki kecakapan untuk menyampaikan isi tersebut, uraian mengandung pengetahuan, ada tujuan yang dicapai, dan antara si pembaca, topik, dan pendengar terjalin hubungan yang harmonis. Lima poin tersebut merupakan dasar untuk dapat menciptakan kemampuan berpidato yang baik. ( Fanani dan Burhan, 2013; hal. 69).




  1. Meningkatkan 

  Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti kata meningkatkana adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan ( usaha, kegiatan dsb). Jadi meningkatkan adalah lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan, meningkatkan berarti memajukan penambahan keterampilan dan  kemampuan agar lebih baik.

Sedangkat arti dari meningkatkan yang dimaksud dari judul penelitian ini memiliki arti yaitu usaha untuk membuat kecakapan serat kemampuan public speaking siswa menjadi lebih baik dari sebelumya.


  1. Kecakapan

  Kecakapan didalam kamus besar bahasa indonesia berarti kemampuan. Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa ( bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan berarti kesanggupan  kecakapan atau kekuatan ( tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia 1989; hal. 552-553). Kemampuan berarti kapasistas seseorangindividu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan juga bisa disebut dengan kompetensi. Kata kompetensi berasal dari bahasa Inggris “competence” uang berarti skill, kecakapan, kemampuan serta wewenang. Dari kata kompetensi dari kata kompetence yang memiliki arti kemampuan dan keterampilan dalam bidangnya sehingga ia mempunyai kewenangan atau otoritas untuk melakukan sesuatu dalam batas ilmunya tersebut.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kecakapan seseorangg individu dalam menguasai suatu keahlian dan digunakan untuk mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan keseluruan seseorang pada dasarnya terdiri atas dua kelompok faktor, yaitu:

  1. Kemampuan intelektual, merupakan kemampuan yang dibutuhkanuntuk melakukan sebagai aktifitas mental ( berfikir, menalar dan memecahkan masalah)

  2. Kemampuan fisik, merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang 

menuntut stamina, keterampilan, kekuatan dan karakteristik serupa.

  1. Ruang lingkup kemampuan atau kecakapan cukup luas, meliputi kegiatan berupa perbuatan, berfikir, Berbicara, melihat dan sebagainya. Akan tetapi dalam pengertian sempit biasanya kemampuan lebih ditujunjukkan kepada kegiatan yang berupa perbuatan. Jadi kemampuan adalah kompetensi mendasar yang perlu dimiliki siswa yang mempelajari lingkup materi dalam suatu pelajaran pada jenjang tertentu. Atas dasar ini, kompetensi dapat berarti pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, efektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (suja’i 2010; hal. 14-15). 

    Kemampuan kognitif Menurut yuliana nuaraini dan sujiono  pengertian kognitif adalah “istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian dan penalaran”. Sedangkan menurut piaget yang dikutip oleh yuliana pengertian kognitif adalah “ bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan opjek dan kajian-kajian disekitarnya”. Piaget memandang bahwa anak memainkan peranan aktif  didalam menyusun pengetahuan  mengenai realitas anak tidak pasif menerima informasi ( yuliana nuraini dan  sujiono, 2004; hal.23 ). Di dalam kemampuan kognitif di bagi menjadi beberapa komponen yaitu:

  1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan ini merupakan proses berfikir yang paling rendah.

  1. Pemahaman

Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu, setelah sesuatu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

  1. Penerapan

Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode. Prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongret.aplikasi atau penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi dari pemahaman.

  1. Analisis

Analisis mencangkup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan kedalambagian-bagian sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik

  1. Sintesis

Sintesis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bgian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian- bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor yang lainnya. Sintesis merupakan suatu proses yang memadukan.( Anas Sudijono, 2010; hal. 49-50).

  1. Kemampuan afektif

 Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencangkup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa kemampuan afektif adalah dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif  tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif pesarta didik akan nampak pada tingkah laku. Kemampuan afektif terdiri dari beberapa komponen yaitu:

  1. Penerimaan

Penerimaan adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan dari luar yang datang pada dirinya dalam bentuk masalah , dituasi,  gejala dan lain-lain.

  1. Tanggapan

Tanggapan mengandung arti adanya partisipasi aktif. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara jenjang ini lebih tinggi dari jenjang penerimaan.

  1. Penghargaan

Penghargaan adalah menilai atau menghargai artinya memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila sesuatu itu tidak dikerjakan dirasa akan membawa kerugian atau penyesalan.

  1. Kemampuan psikomotorik

Kemampuan psikomotorik merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau bertindak salah seorang menerima pengalaman belajar tertentu. Psikomotorik adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik.

  1. Peniruan

Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Meniru ini biasanya dalam bentuk global san tidak sempurna.

  1. Manipulasi

Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

  1. Ketetapan

Memerlukan kecermatan proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi samapai pada tingkat minimum.

  1. Pengalamiahan

Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam dominan psikomotorik. Beberapa sdpek diatas dapat diketahui bahwa mempraktekkan gerakan dan bacaan sholat merupakan kemampuan pada aspek psikomotorik.


  1.  Public speaking

   Secara umum public speaking  adalah bagian dari ilmu komunikasi. Komunikasi merupakan proses interaksi untuk berhubungan dari satu pihak kepihak lainnya. Dalam konteks saat ini, komunikasi bisa juga dimaknai sebagai juru bicara (jubir). Secara teoritis, fungsi komunikasi adalah menciptakan kesadaran, mengubah persepsi, mengubah keyakinan, mengubah pensikapan, memperkuat sikap, mendapat respons langsung, dan membangun citra. Singkatnya komunikasi diperlukan agar tidk ada salah paham dan diharapkan bisa saling kenal dan bahkan kerja sama. ( Fitriana Utami Dewi, 2018; hal. 15). 

Public Speaking adalah sebuah keahlian berbicara di depan orang banyak secara bahasa, public artinya umum sedangkan speaking artinya berbicara. Tidak hanya sekedar berbicara, namun menyampaikan gagasan atau informasi terkadang juga untuk mempengaruhi. Oleh sebab itu sangat tidak tepat jika ada yang merasa tidak perlu untuk belajar keahlian ini ( Muhammad Maliki, 2014; hal. 36). 


Menurut Webster‟s Third New International Dictionary, Public Speaking  adalah :

  1. Proses pembicaraan di depan publik.

  2. Seni serta ilmu pengetahuan mengenai komunikasi lisan yang efektif dengan para pendengarnya (Amirullah dan syarbini, 2015; hal. 42)

Dalam Public Speaking, kata-kata yang terucap harus tertata dan teratur. Isi pembicaraan harus mampu memberikan kontribusi terhadap perubahan emosi, tindakan dasn sikap. intinya, mampu membuat orangorang yang mendengarkan bergerak dab beranjak mengikuti aturan petunjuk berbicara. Ada begitu banyak teknik dan aturan saat memberikan motivasi, pengaruh, bujukan dan arahan kepada orang-orang (Amirullah dan Syarbini, 2015; hal. 42-43). sebagaimana potongan ayat berikut:

وَقُولُوا لِلنَّاسِحُسْنًا....(البقرة:83).....

Artinya: .....Dan  berkatalah kamu dengan semua manusia dengan cara yang baik.... (QS: Al-Baqarah ; 83)


Kecemasan berbicara atau berpidato didepan umum biasa disebut speechophobia. Speechophobia merupakan masalah serius yang dihadapi sejumlah besar orang dan cukup mempengaruhi seseorang untuk tampil di depan umum. Ketika mengalami speechophobia daftar gejala yang dirasakan antara lain:

  1. Detak Jantung yang cepat

  2. Telapak tangan atau punggung keringatan

  3. Napas terengah-engah

  4. Mulut kering dan sukar menelan

  5. Ketegangan otot dada, tangan, leher dan kaki

  6. Tangan atau kaki bergetar

  7. Suara bergetar dan parau

  8. Berbicara cepat dan tidak jelas

  9. Tidak sanggup mendengar atau konsentrasi

  10. Lupa atau ingatan hilang (Amirullah dan Syarbini, 2015; hal. 109-110)


Menurut pakar American Management Assosiation ada sepuluh aturan jika ingin berkomunikasi dengan baik, yaitu :

  1. Menjelaskan konsep atau ide sebelum berkomunikasi

  2. Teliti tujuan sebenarnya dalam berkomunikasi

  3. Pertimbangkan suasana lingkungan dan waktu

  4. Hubungan pihak lain

  5. Waspada atas nada dan isi berita

  6. Komunikasikan seseorang yang membantu dan bernilai bagi penerima

  7. Tindak lanjut komunikasi

  8. Komunikasi untuk waktu yang akan datang

  9. Tindakan konsisten dengan kata dan,

  10. Menjadi pendengar yang baik. ( Edi Harahap, 2016; hal. 42)


Beberapa orang berpendapat bahwa kemampuan Public Speaking merupakan bakat bawaan sejak lahir. Memang, kita sering menjumpai kemampuan berbicara seseorang lebih baik dibandingkan orang lain. Sebagian besar pembicara yang suskses tersebut, telah menginvestasikan waktu dan tenaga untuk belajar dan berlatih dengan tekun.

Hal yang menyebabkan seseorang takut berbicara di depan umum yaitu salah ucap. Banyak orang diluar sana yang tidak bisa berbicara dengan normal akibat trauma. Ciri-ciri gejala ini adalah:

  1. Berbicara terbata-bata 

  2. Suara kecil dan bergetar

  3. Gagap berlebihan

  4. Tidak berani menatap mata orang lain.

Jadi, cara mengatasi trauma yaitu dengan cara memulihkan rasa percaya diri dan berubah menjadi orang yang mampu berbicara dengan cerdas yaitu dengan cara membuang rasa takut (OH Su Hyang, 2018; hal. 18-21).


  1. Studi Relevan

 Penelitian relevan merupakan penelitian yang hampir serupa dilakukan oleh peneliti lain relevan dengan masalah yang di teliti. Oleh sebab itu dikemukakan beberapa penelitian lain yang pernah dilakukan berikut:

  1. Firma Riska Oktari, dengan judul skripsi “strategi pelatihan muhadharah terhadap kemampuan berpidato santri pondok pesantren darul falah teluk betung bandar lampung”. Skripsi Universitas Islam Raden Intan Lampung 2017. Tekhnik pengambilan sampel sumber data dengan snow ball sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Tekhnik analisis data dengan menggunakan deskriptif kualitatif.  Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penulis, pada pengambilan sampel data menggunakan snow ball sampling dan  metode pengumpulan data yaitu menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Tekhnik analisis data dengan menggunakan deskriptif kualitatif. Namun pada penelitian terdahulu memfokuskan penelitiannya untuk mencetak  santrinya  menjadi juru dakwah yang profesional melalui pelatihan muhadharah, sedangkan pada penelitian yang dilakukan penulis memfokuskan pada Muhadharah untuk meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  2. Farihatush Sholihah Laela dengan judul skripsi  “Pelaksanaan Pendidikan Muhadharah sebagai upaya meningkatkan percaya diri siswa” (studi kasus di SMP Al-Islam Kartasura Tahun Pelajaran 2010/2011). Skripsi universitas Muhammadiyah Surakarta 2010. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan Muhadharah, serta untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan Muhadharah dapat dijadikan sebagai upaya meningkatakan percaya diri siswa atau tidak di SMP Al-Islam Kartasura Tahun Pelajaran 2010/2011. Tekhnik pengambilan sampel sumber data dengan purposive sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Tekhnik analisis data dengan menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penulis, pada metode pengumpulan data yaitu Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Tekhnik analisis data dengan menggunakan deskriptif kualitatif. Namun pada penelitian terdahulu memfokuskan penelitiannya untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan Muhadharah dapat upaya meningkatakan percaya diri siswa atau tidak, sedangkan pada penelitian yang dilakukan penulis memfokuskan pada Muhadharah untuk meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo. 










BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Pendekatan dan Desain Penelitian 

Berdasarkan dengan judul yang penulis ambil, Kirk dan Miller dalam Moleong mendefinisikan bahwa ”penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya. (Lexy J Moleong, 2011: hal 3) Metode deskriptif juga dapat didefinisikan sebagai suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebagai upaya untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang telah dibentangkan, karena sifatnya menggunakan penekatan analisis deskriptif. Dengan kata lain penelitian ini berupaya menggambarkan, menguraikan suatu keadaan yang sedang berlangsung berdasarkan fakta dan informasi yang diperoleh dari lapangan dan kemudian dianalisis beradasarkan variable yang satu dengan lainnya sebagai upaya untuk memberikan solusi tentang  meningkatkan kecakapan public speaking, yang dimana lokasi Penelitian ini dilakukan di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

Pemilihan metode ini didasarkan atas beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden; ketiga, metode ini lebih peka dan lebih bisa menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. (Lexy J Moleong, 2011: hal 5)

  1. Setting dan Subjek Penelitian 


  1. Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 27 Kabupaten Tebo, atas berbagai pertimbangan; banyaknya fenomena-

fenomena yang terjadi pada anak di SMPN 27 Kabupaten Tebo baik dari  kurangnya rasa semangat dan ketertarikan dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler muhadharah, siswa tidak disiplin ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dibuktikan dengan masih bermain dan kurang serius ketika kegiatan muhadharah berlangsung.

  1. Subjek Penelitian

Atas berbagai pertimbangan sebagaimana dikemukakan di atas maka yang akan dijadikan sebagai informan (Subjek penelitian) ini adalah:

  1. Guru Pendidikan Agama Islam.

  2. Siswa kelas VIII C.

Penentuan subjek didasarkan dengan tekhnik purposive sampling. Purposive sampling adalah pengambilan data secara sengaja sesuai dengan persyaratan sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sengaja mengambil sampel tertentu ( jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat , karakteristik, ciri, kriteria) sampel. (Lexy J Melong, 2011; hal 5) Sebagai subjek utama (key Informan) yaitu Guru Pendidikan Agama Islam SMPN 27 Kabupaten Tebo. Adapun  sebagai sumber informasi untuk memperoleh data tentang permasalahan ekstrakurikuler muhadharah, solusi solusi yang diterapkan oleh guru pembimbing untuk mengembangkan kecakapan Public Speaking.


  1. Jenis dan Sumber Data


  1. Jenis Data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama melalui observasi dan wawancara di lapangan. Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari bacaan literatur-literatur serta sumber-sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini, dengan kata lain data sekunder dapat diperoleh dari sumber kedua berupa dokumentasi serta peristiwa yang bersifat lisan atau tulisan. Data sekunder ini digunakan sebagai data pelengkap atau data pendukung dari data primer.


  1. Data Primer

Data primer adalah data yang diambil langsung dari peneliti kepada sumbernya, tanpa adanya perantara. (Mukhtar, 2010: hal 86) Yakni data yang diperoleh secara langsung melalui wawancara dan pengamatan (observasi) terhadap perkembangan permasalahan di SMP N 27 Kabupaten Tebo. 

  1. Data Sekunder

Data sekunder ialah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti misalnya dari dokumentasi (profil sekolah dan struktur organisasi) atau publikasi lainnya. (Mukhtar, 2010: hal 90) Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui dokumentasi yang meliputi profil sekolah dan struktur organisasi SMP N 27 Kabupaten Tebo.

  1. Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh. (Suharsimi Arikunto, 2002: hal 207) Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, yang dimaksud dengan sumber data adalah subyek darimana data-data diperoleh. (Suharsimi Arikunto, 2002: hal 106) Sumber data yaitu berbentuk perkataan maupun tindakan, yang didapat melalui wawancara. Sumber data peristiwa (situasi) yang didapat melalui observasi. Dan sumber data dari dokumen didapat dari instansi terkait. “menurut Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.(Jam’an Satori, 2009: hal 105)

Sumber data di sini merupakan subjek dari mana data dapat diperoleh yaitu :

  1. Sumber data berupa manusia, yakni guru, dan para siswa SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  2. Sumber data berupa suasana, dan kondisi SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  3. Sumber data berupa dokumentasi, berupa foto kegiatan, arsip dokumentasi resmi yang berhubungan  dengan keberadaan siswa, baik jumlah siswa, dan keadaan di SMPN 27.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang ditempuh untuk mendapatkan data/fakta yang terjadi pada subjek penelitian untuk memperoleh data yang valid. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui metode observasi,  wawancara, dokumentasi.

  1. Metode Observasi

Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengamatan secara langsung, (Lexy J Moleong, 2011: hal 125) Metode ini dilakukan dengan jalan terjun langsung kedalam lingkungan dimana penelitian itu dilakukan disertai dengan pencatatan terhadap hal-hal yang muncul terkait dengan informasi data yang dibutuhkan. Penulis menggunakan metode ini untuk mengamati secara langsung data yang ada di lapangan, terutama tentang data yang ada di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

Metode ini digunakan untuk mengungkapkan data yang mana secara langsung dapat mengamati hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan public speaking.

Langkah-langkah yang dilakukan:

  1. Mengamati sistem pembelajaran di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  2. Mengamati bentuk pelaksanaan dan kegiatan dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa kelas VIII C di SMPN 27 Kabupaten Tebo. 

  3. Memperhatikan kendala yang di hadapi guru dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa kelas VIII C di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  4. Memperhatikan upaya guru PAI dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa kelas VIII C  di SMPN 27 Kabupaten Tebo.


  1. Metode Wawancara / interview

“interview atau wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi”(Nasution, 2006: hal 113) Metode wawancara ini penulis lakukan untuk mengambil data, dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan responden dan mendengarkan langsung serta mencatat dengan teliti apa yang diterangkan oleh responden, Metode ini digunakan untuk memperoleh data atau informasi dari beberapa sumber data yang bersangkutan yaitu, guru dan siswa. Sebelum penulis melalukan wawancara, penulis sudah mempersiapkan seperangkat pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian.

Adapun datanya meliputi:

  1. Metode yang digunakan dalam bentuk pelaksanaan dan kegiatan dalam meningkatkan kecakapan Public Speaking siswa kelas VIII C di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  2. Cara yang digunakan dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa kelas VIII C di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  3. Upaya-upaya guru PAI dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa kelas VIII C di SMPN 27 Kabupaten Tebo.

  4. Sejauh mana pencapaian yang diperoleh dari bentuk metode yang digunakan.

Interview ditinjau dari segi pelaksanaannya, maka dibedakan menjadi:

  1. Interview bebas dimana pewancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan.

  2. Interview terpimpin yaitu interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti, yang dimaksud dalam interview terstruktur. 

  3. Interview bebas terpimpin yaitu kombinasi antara interview bebas dan interview terpimpin. (Suharsimi Arikunto, 2002: hal 132)

  1. Metode Dokumentasi

Metode Dokumentasi adalah suatu cara mencari data terhadap hal-hal seluk beluk penelitian baik berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasasti, majalah, agenda dan lain sebagainya. (Sugiono, 2012: hal 138) Data tersebut antara lain :

  1. Historis dan geografis

  2. Struktur Organisasi

  3. Keadaan siswa

  4. Keadaan sarana dan prasarana.


  1. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini yang akan di analisis adalah melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan cara deduktif. Deduktif adalah suatu proses berfikir dengan mengemukakan permasalahan yang bersifat umum kemudian dibahas kepada permasalahan yang bersifat khusus. Analisis data meliputi :

  1. Reduksi Data 

“Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari wawancara, observasi, dan dokumentasi”.(Jam’an Satori, 2009: hal 219) Setelah dibaca, dipelajari, maka langkah selanjutnya adalah reduksi data.

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan tranformasi data-data kasar yang muncul dari catatan-catatan yang tertulis di lapangan. Reduksi data dilakukan selama penelitian berlangsung.

  1. Penyajian data

Setelah melalui reduksi data langkah selanjutnya dalam analisa data adalah penyajian data atau sekumpulan informasi yang memungkinkan peneliti melalukan penarikan kesimpulan.

  1. Verifikasi / penarikan kesimpulan

Setelah data terkumpul direduksi yang selanjutnya disajikan. Maka langkah terakhir dalam penganalisa data adalah menarik kesimpulan atau verifikasi dan analisanya menggunakan analisa model interaktif, artinya analisa ini dilakukan dalam bentuk interaktif dari ketiga komponen utama tersebut.


  1. Uji Keterpercayaan Data (Trushwortnines)

Untuk menetapkan keterpercayaan data, maka diperlukan tehnik pemeriksaan. Pelaksanaan pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu, ada beberapa tehnik yang digunakan dalam pengecekan keabsahan temuan, diantaranya :

  1. Perpanjang keikutsertaan

Perpanjang keikutsertaan dalam artian memperpanjang waktu di lapangan sehingga kejenuhan pengumpilan data tercapai. Jika hal ini dilakukan maka membatasi membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks, membatasikekeliruan peneliti, dan mengkonpensasikan pengaruh dari kejadian atau peristiwa yang memiliki pengaruh sesaat. Perpanjangan waktu di lapangan akan memungkinkan penungkatan derajat kepercayaan data yang dikumpul. (Sugiono, 2012: hal 219) 

  1. Ketekunan Pengamatan

Ketekunan dalam pengamatan berarti menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri terhadap hal-hal tersebut secara rinci berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. (Sugiono, 2012: hal 99) Hal ini diharapkan dapat mengurangi distorsi data yang timbul akibat peneliti terburu-buru dalam menilai suatu persoalaan, ataupun kesalahan responden yang vtidak benar dalam memberikan informasi.

  1. Triangulasi

Trianggulasi merupakan teknik pemerikasaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu diluar data pokok. Untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu, terdapat empat macam teknik pemerikasaan menggunakan sumber, metode, penyidik, dan teori. (Lexy J Moleong, 2011: hal 178) 

Hal ini dapat dicapai dengan jalan:

  1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

  2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi

  3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu

  4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, dan orang berpendidikan.

  5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

























  1. Jadwal Penelitian

Untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian dilapangan, maka penulis menyusun agenda secara sistematis yang terlihat pada tabel jadwal penelitian sebagai berikut:

Tabel 3.1. Jadwal Penelitian

No

Kegiatan

Bulan Ke, Tahun 2019/2020

Februari

September

Oktober

Desember

Januari

Februari

Maret

April

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Persiapan penelitian


x































2

Menyusun konsep proposal



x






























3

Mengajukan judul ke Fakultas 




x





























4

Konsultasi dengan dosen pembimbing







x

x

x

x























5

Seminar proposal












x





















6

Izin atau perintah riset
















x

















7

Pelaksanaan riset

















x

x

x

x













8

Penulisan skripsi





















x

x

x










9

Konsultasi kepada dosen pembimbing
























x









10

Penggandaan skripsi

































11

Munaqasah dan perbaikan

































Catatan : Jadwal sewaktu-waktu dapat berubah













BAB IV

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

  1. Temuan Umum

  1. Historis dan Geografis Sejarah SMPN 27 Kabupaten Tebo

 SMP Negeri 27 Kabupaten Tebo, awalnya adalah SMP Bhakti. Pada tahun 1985 para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidikan dan pemerintah desa bermusyawarah. Yang diadakan oleh LMD (Lembaga Masyarakat Desa) dan LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) untuk mendirikan SMP sekolah pendukung didirikannya SMP ini yaitu SD 175 dan SD 184. Para tokoh-tokoh desa mendirikan sekolah swasta dengan tujuan agar siswa SD yang sudah lulus tidak putus sekolah dan tetap melanjutkan pendidikannya kejenjenag sekolah menengah pertama. 

  Sebelum memiliki gedung sendiri kegiatan belajar mengajar masih menumpang di gedung sekolah milik SD 175 Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang. Kegiatan belajar mengajar dilakukan pada siang hari karena harus bergantian dengan siswa SD 175 dan tenaga pendidik pun berasal dari guru-guru yang mengajar di SD 175 dan siswanya masih sedikit.

 Setelah 9 tahun lamanya numpang belajar di SD 175 karena belum memiliki gedung sendiri pada tahun 1994 SMP Bhakti  telah memiliki gedung sendiri walaupun sangat sederhana dengan dinding kayu beratap genteng tetapi sejak itu kegiatan belajar mengajar tidaklah lagi dilaksanakan pada siang hari, karena sudah ada tenaga pengajar yang cukup memadai untuk saat itu. Pada tahun 1994 siswa SMP Bhakti sudah mencapi sekitar  120 siswa.

 Sejak dinegerikan pada tahun 2004 SMP Negeri 27 Kabupaten Tebo pembangunan gedung terus dilakukan sehingga tidak ada lagi dinding yang menggunakan papan lagi. Setelah dinegerikan SMPN 27 Kabupaten Tebo telah  banyak meraih prestasi, baik tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi bahkan tingkat Nasioal dibidang seni, olah raga dan pramuka. Setelah dinegerikan jumlah siswa mulai meningkat berkisar antara 250-300 siswa.   

  Dalam perjalanannya kurang lebih 35 tahun SMP Bhakti hingga menjadi SMPN 27 Kabupaten Tebo telah mengalami beberapa kali pergantian pemimpin /kepala sekolah. Berikut nama-nama kepala SMP Bhakti beserta tahun pengabdiannya:

  1. Bapak Hadi (Tahun Pengabdian 1985-1994)

  2. Bapak Mawarsito (Tahun pengabdian 1994-1996).

  3. Bapak Sulaiman (Tahun Pengabdian 1996-1998).

  4. Bapak Bisri Syamsuri S.Pd (Tahun Pengabdian 1998-2000)

  5. Bapak Nurhadi Riyanto  S.Pd ( Tahun Pengabdian 2000-2005)

  6. Bapak Edwar S.Pd ( Tahun Pengabdian 2005-2013)

  7. Bapak Saliman S.Pd ( Tahun Pengabdian 2013 hingga sekarang)

 Adapun  secara geografis letak-letak batasan SMPN 27 Kabupaten Tebo  sebagai berikut:

  1. Sebelah Timur, berbatasan dengan  lapangan bola kaki

  2. Sebelah Barat berbatsan dengan, Sekolah Dasar Negeri  185/VIII Desa Tegal Arum

  3. Sebelah Utara berbatasan dengan perkebunan masyarakat

  4. Sebelah Selatan berbatasan dengan, jalan aspal.

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Identitas Sekolah

Nama     : SMP NEGERI 27 KABUPATEN TEBO

Alamat       Jalan     : P.Diponegoro /Tegal Arum

                  Desa/Kecamatan     : Tegal Arum/ Rimbo Bujang

                  Kab/Kota     : T e b o

      Privunsi     : Jambi

                  No. Telp/ E-Mail     :- / smpn27tebo2016@gmail.com 

NSS / NSM / ND     : 2011008040027

Setatus sekolah     : Negeri

Jenjang Akriditasi     : B

Tahun Sekolah didirikan     : 2004

Tahun Sekolah Beroprasi     : 2004/2005

Setatus gedung       : Milik Sendiri

Kepemilikan Tanah       : Pemerintah

  1. Status Tanah       : Serifikat ( Hak Pakai )

  2. Luas       : 20. 000 M²

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Visi dan Misi Madrasah Tsanawiyah Tahzibatul Islamiyah Desa Muara Madras

  1. Visi

“ Berprestasi, berbudata didasari imtaq dan iptek serta berwawasan lingkungan” dengan indikator visi tersebut sebagai berikut:

  1. Mampu mencapai nilai standar kelulusan UN ( Ujian Nasional)

  2. Mampu menuntaskan semua mata pelajaran semester 1 sampai 6

  3. Mampu bersaing melanjutkan pendidikan kesekolah unggul

  4. Terwujudnya sikap dan perilaku patuh dan disiplin yang membudaya di lingkungan dan masyarakat

  5. Taat dalam menjalankan ajaran agama

  6. Mampu bersaing dalam kegiatan OSN ( Olympiade Sains Nasional), O2SN (OlympiadeOlahraga Siswa Nasional), ataupun FLS2N ( Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional).

  7. Mampu memanfaatkan teknologi tepat guna dengan baik

  8. Memiliki rasa sosial yang tinggi dan peduli terhadap lingkungan

  9. Mampu menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, asri dan nyaman untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.


  1. Misi

Misi SMPN 27 Kabupaten Tebo adalah:

  1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran, bimbingan belajar, ekstrakurikuler, olahraga, keagamaan dan seni, serta pramuka yang didasari IMTAQ dan IPTEK kepada peserta didik secara optimal, bermutu dan berkesinambungan

  2. Melaksanakan dan mematuhi tatatertib sekolah

  3. Melaksanakan pembiasaan senam dan gotong royongg dalam menciptakan sekolah sehat,sekolah adiwiyata

  4. Melaksanakan kegiatan bimbingan keagamaan terstruktur dan terprogram dan bekerjasama dengan lembaga keagamaan lainnya

  5. Memberikan bantuan baik moral maupun material kepada lingkungan yang membutuhkan bantuan

  6. Mewujudkan pembelajaran dan pengembangan diri yang teritegritas dengan pendidikan lingkungan hidup

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Tujuan SMPN 27 Kabupaten Tebo

Adapun tujuan SMPN 27 Kabupaten Tebo adalah:

  1. Memberikan layanan pemerataan pendidikan pada masyarakat

  2. Terlaksananya pengembangan kurikulum yang meliputi 8 standar pendidikan

  3. Terciptanya lingkungan belajar yang aman, bersih,tertib, indah dan tenang serta sikap jujur

  4. Terciptanya lingkungan yang harmonis dalam mengembangkan pendidikan

  5. Meningkatkan keterampilan sesuai dengan minat dan bakat

  6. Terciptanya lingkungan sekolah yang agamis mencintai budaya bangsa

  7. Mencapai rata-rata Ujian Nasional pada siswa minimal pada tahun 2020 adalah 6.25

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Kurikulum Madrasah

Mata pelajaran di SMPN 27 Kabupaten Tebo meliputi:

Kurikulum k13 terdiri dari:

  1. Pendidikan agama islam

  2. Pendidikan Kewarganegaraan 

  3. Bahasa Indonesia

  4. Bahasa Inggris

  5. Matematika

  6. Ilmu Pengetahuan Sosial

  7. Ilmu Pengetahuan Alam

  8. Seni Budaya

  9. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

  10. Teknologi Informasi  dan Komunikasi

  11. Bimbingan Konseling

  12. Prakarya

  13. Pendidikan Lingkungan Hidup

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Struktur Organisasi SMPN 27 Kabupaten Tebo

Struktur organisasi adalah salah satu faktor yang harus ada didalam sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar semua pelaksanaan program kerja dari sekolah tersebut. Demikian pula halnya dengan struktur organisasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, untuk mempermudah melaksanakan suatu program kerja sesuai tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian, agar tercapai suatu tujun pendidikan khususya di SMPN 27 Kabupaten Tebo. Adapun strukturorganisasi SMPN 27 Kabupaten Tebo:


 








Gambar 4.1 struktur Oeganisasi sekolah       

 STRUKTUR ORGANISASI SMPN 27 KABUPATEN TEBO




























( Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Tenaga Pendidikan SMPN 27 Kabupaten Tebo

   Guru merupakan unsur yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Tanpa guru tidak ada istilah pembelajaran disebuah  sekolah atau Madrasah. Guru yang mencukupi ditopang oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas akan turut membantu terciptanya keberhasilan proses belajar. Adapun tingkat pendidikan dan tenaga pengajar di SMPN 27 Kabupaten Tebo ini terdiri dari  tamatan perguruan tinggi islam maupun perguruan tinggi Umum  (S.1/S.2). 

 Untuk melihat keadaan guru SMPN 27 Kabupaten Tebo dapat dilihat dari table berikut:

Tabel 4.1 Keadaan Guru

No

Nama Guru

Pendidikan

Jabatan

Mata Pelajaran yang diajarkan

1

Saliman, S.Pd.

S. 1

Kepala Sekolah

Bahasa Indonesia

2

Anasahuddin, S.Pd, M.Pd

S.2

Wakil Kepala Sekolah dan Waka Kurikulum

Matematika

3

Suharto S.Pd, M.Pd

S.2

Waka Kesiswaan

Bahasa Indonesia

4

Ngadiono, S.Pd

S.1

Guru 

Matematika

5

Triyono, S.Pd

S.1

Guru

Matematika

6

Yusnidar, S.Pd

S.1

Guru

IPS

7

wijiningsih, S.Pd

S.1

Guru

PKN

8

Lilis Setyamurni, S.Pd

S.1

Guru

Bahasa Inggris

9

Desrina, S.Pd.MM

S.2

Guru

IPS

10

Herawati S.Pd

S.1

Guru

IPA

11

Syafwan S.Pd, M.Si

S.2

Guru

Kesenian

12

Sri Tugiarti, S.Pd

S.1

Guru

Bahasa Inggris

13

Agung Nugroho, S.Pd

S.1

Guru 

TIK

14

Titi Rohmaningsih, SP

S.1

Guru

IPA

15

Agung Sulthoni, S.Pd

S.1

Guru

Olah Raga

16

Rusmiah, S.Pd.I

S.1

Guru

Muatan Lokal

17

Robiah, S.Ag

S.1

Guru

Agama

18

Asmorowati, S.Pd.I

S.1

Guru

Muatan Lokal

19

Andi Kasianto, S.Hut

S.1

Guru

Olah Raga

20

Uki Dwi Sulistiyani, S.Pd

S.1

Guru 

Bimbingan Konseling

21

Siti Mukhayati, S.Pd 

S.1

Pustakawan 

-

22

Ahmad Mulyadi, S.Pd

S.1

Operator 

-

23

Saadah Sitepu, S.Pd

S.1

Kepala TU

-

24

Ponco Haryanto

SMA

Staf TU

-

25

Sunardi

SMA

Staf TU

-

26

Albin Malik

SMA

Staf TU

-

27

Purwanto

Paket C

Penjaga Sekolah

-

28

Matyono

SMA

Tukang Kebun

-

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)




  1. Keadaan Siswa SMPN 27 Kabupaten Tebo

Data siswa SMPN 27 Kabupaten Tebo T.A 2019/2020:

Tabel 4.2 Keadaan Siswa

No

Kelas 

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

KELAS VIIA

14

17

31

2

KELAS VIIB

13

18

31

3

KELAS VIIC

15

17

32

4

KELAS VIIIA

12

19

31

5

KELAS VIIIB

13

17

30

6

KELAS VIIIC

14

16

30

7

KELAS IXA

14

15

29

8

KELAS IXB

13

17

30

9

KELAS IXC

12

16

28

Jumlah

9 Kelas

122

150

272

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)


  1. Keaadan Sarana Dan Prasarana SMPN 27 Kabupaten Tebo

  1. Sarana

  Sarana adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Sarana adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja dan kursi, serta alat-alat dan media pembelajaran. Atau fasilitas belajar yang diperlukan dalam proses belajar mengajar agar proses pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat menberikan semangat belajar kepada siswa.

  1. Prasarana

Disamping sarana terdapat pula prasarana yang merupakan faslitas belajar yang mendukung dan membantu proses pembelajaran yang tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti halaman, kebun, taman sekolah, dan jalan menuju sekolah. Tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses pengajaran seperti taman sekolah yang digunakan sekolah untuk pengajaran pendidikan lingkungan hidup, halaman sekolah sekaligus lapangan olahraga, upacara dan kegiatan lainnya komponen tersebut merupakan prasarana pendidikan. Di SMPN 27 Kabupaten Tebo sarana dan prasarana yang dibutuhkan cukup memadai, terutama sarana olahraga dan ekstrakurikuler seperti lapangan bola volley. Adapun sarana dan prasarana yang dapat menunjang berlangsungnya proses pembelajaran di SMPN 27 Kabupaten Tebo dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 4.3 Kedaan sarana dan prasarana

No

Jenis bangunan

Jumlah ruang

Kondisi

ket

1

Ruang Kelas

12

Baik

Ada 

2

Perpustakaan

1

Baik

Ada 

3

R. Lab IPA

1

Baik

Ada

4

R. Tata Usaha

1

Baik

Ada 

5

Ruang guru

1

Baik

Ada

6

Wc Guru

2

Baik

Ada 

7

Wc Siswa

6

Baik

Ada 

8

Lab. Komputer

1

Baik 

Ada

9

R.Keterampilan

-

-

Belum Ada

10

Aula

1

Baik 

Ada

11

Ruang UKS

1

Baik

Ada

12

Lab. Bahasa

-

-

Belum ada

13

R. Kesenian

1

Baik

Ada

14

Alat Olahraga

-

Baik

Masih kurang 

15

Meja Kursi Siswa

-

-

Masih Kurang 

16

Meja kursi guru/TU

-

-

26 Set

17

Pagar Keliling

-

-

Ada

(Dokumentasi SMPN 27 Kabupaten Tebo, 2020)



  1. Temuan Khusus dan Pembahasan

    Setelah peneliti melaksanakan penelitian di SMPN 27 Kabupaten Tebo di  Desa Tegal Arum, peneliti memperoleh data-data dilapangan yang sesuai dengan judul penelitian dan focus penelitian mengenai, “efektivitas kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk meningkatakan kecakapan public speaking siswa kelas VIIIC di SMPN 27 Kabupaten Tebo”. Maka data tersebut diklasifikasikan berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Efektivitas kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo

Hasil penelitian mengenai kegiatan muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo. Adapun latar belakang adanya kegiatan muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo dari hasil wawancara guru pembimbing muhadaharah adalah sebagai berikut:

“kegiatan muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo dimulai sejak tahun 2012. Kegiatan muhadharah ini diterapkan oleh siswa Madrasah Aliyah  As-Salam Tebo yang sedang melaksanakan PPM (Praktek Pengabdian Masyarakat) di Desa Tegal Arum. Saat itu siswa tersebut berdiskusi dengan saya untuk mengadakan kegiatan yang bersifat agamis yaitu kegiatan muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo. Karena dirasa akan membawa dampak positif bagi sekolah khususnya untuk siswa SMPN 27 Kabupaten Tebo maka di setujui oleh kepala sekolah dan wakil kesiswaan, sejak itulah kegiatan muhadharah ini berjalan hingga saat sekarang.” ( wawancara 09 Januari 2020)


    Diketahui bahwa yang mendasari adanya kegiatan  muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo karena kegiatan tersebut dirasa akan membawa dampak positif dan sangat bermanfaat untuk sekolah dan siswa SMPN 27 Kabupaten. Dengan ini juga berkaitan dengan adanya tujuan yang diharapkan dengan diadakannya kegiatan muhadharah yaitu untuk meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN27 Kabupaten Tebo. Dalam hal ini  guru pembimbing muhadharah menyatakan:

muhadharah ini wajib diikuti oleh seluruh siswa, untuk melatih mereka yang belum mempunyai keberanian berbicara dan tampil didepan menjadi berani dan yang sudah mempunyai bakat semakin ditingkatkan dan dikembangkan. Dengan adanya kegiatan muhadharah ini siswa dilatih untuk berbicara didepan, sehingga lulus dari SMPN 27 Kabupaten Tebo lalu melanjutkan kejenjang lebih tinggi dan saat berada di tengah masyarakat siswa yang lulus dari sini sedikit banyaknya sudah mempunyai bekal.” (wawancara 09 Januari 2020)

Kegiatan muhadharah telah menjadi salah satu kegiatan wajib bagi siswa SMPN 27 Kabupaten Tebo. Mengingat salah satu tujuan dilaksanakan kegiatan muhadharah ini, yaitu untuk mengembangkan atau meningkatkan kecakapan  public speaking, dapat juga diartikan mampu berbicara didepan orang banyak. Dalam pelaksanaan kegiatan muhadharah tidak terlepas dari adanya waktu pelaksanaan, tempat pelaksanaan, peserta yang mengikuti kegiatan muhadharah dan sistem pelaksanaan. Dalam hal ini hasil wawancara dengan guru pembimbing muhadharah sebagai berikut:

“kegiatan muhadharah dilaksanakan pada hari jum’at pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Kegiatan ini dimulai Sekitar jam 07.30 dan selesai jam 08.15. Muhadharah dilaksanakan didalam musholah milik SMPN 27 Kabupaten Tebo. Semua siswa berkumpul didalam mushola dan juga ada beberpa guru yang berada didalam masjid. petugas muhadharah ditunjuk secara rolling perkelas oleh saya. Setiap hari senin wali kelasnya akan menujuk siapa-siapa saja yang mendapat tugas muhadharah. Ada sembilan petugas dan lima  rangkaian kegiatan muhadharah: satu orang sebagai pembawa acara, satu orang membaca Al-Quran, satu orang untuk membaca sari tilawah, dua orang untuk melantunkan sholawat nabi, satu orang untuk melantunkan al-barjanji,  dua orang untuk menyampaikan kultum atau inti dari kegiatan  muhadharah serta satu orang untuk memimpin doa.” (wawancara 09 Januari 2020)

Senada dengan  wawancara dengan salah satu siswa, mengatakan:

Muhadharah dilaksanakan didalam mushola pada hari jum’at pagi jam 07.15 - 08.15 dan petugasnya ditunjuk bergiliran oleh ibu Robbiah guru pembimbing muhadharah, setelah itu biasanya hari senin wali kelas akan menunjuk petugas-petugas muhadharah untuk minggu berikutnya. Petugas muhadharah yaitu sebagai pembawa acara, pembacaan ayat suci Al-Quran, pembacaan saritilawah, sholawat Nabi, al-barjanji, kultum dan doa.” (wawancara 09 Januari 2020)

      Dari wawancara guru pembimbing muhadharah dan salah satu siswa, peneliti tarik kesimpulan bahwa  pelaksanaan muhadharah dilaksanakan secara rutin satu kali dalam seminggu. Kegiatan dilaksankaan didalam musholah SMPN 27 Kabupaten Tebo. Kelas yang telah ditunjuk oleh pembimbing muhadharah maka setiap hari senin secara otomatis akan ditunjuk oleh wali kelasnya. Telah ditetapkan sejak awal kegiatan muhadharah. Petugas muhadharah terdiri dari satu orang pembawa acara, satu orang melantunkan ayat suci Al-Quran, satu orang membaca saritilawah, dua orang membawakan sholawat nabi, satu orang sebagai petugas al-barjanji dan dua orang bertugas untuk menyampaikan kultum dan satu orang membaca doa. 

 Kegiatan muhadharah memiliki proses, yang dimulai dari sebelum pelaksanaan muhadharah  dan  mempersiapkan petugas muhadharah. Berikut wawancara dengan guru pembimbing muhadharah:

“proses sebelum kegiatan muhadharah yaitu setelah siswa ditunjuk sebagai petugas muhadharah oleh wali kelas lalu saya berikan judul kultumnya kepada siswa, setelah itu siswa diberi waktu untuk mencari materi sendiri. Sebelum kegiatan muhadharah, materi kultum diserahkan kepada saya terlebih dahulu untuk di cek dan latihan muhadharahnya menyesuaikan dengan mata pelajaran saya. Petugas kultum tidak dituntut untuk hafal sepenuhnya meteri, diperbolehkan untuk membawa catatan ketika lupa apa yang akan disampaikan, sehingga  bisa melihat catatan tersebut agar kegiatan tetap berjalan dengan baik bagi siswa yang belum terbiasa berbicara didepan tanpa menggunakan teks. Untuk petugas al-barjanji boleh membuka teks, untuk sholawat boleh memilih sholawat apa yang akan di bawakan oleh mereka.” (wawancara 09 Januari 2020)

 Peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa sebelum dilaksanakannya kegiatan muhadharah terdapat beberapa proses yaitu, terlebih dahulu pembimbing muhadharah menetapkan judul untuk materi kultum dan melatih petugas muhadharah sebelum tampil di depan teman-teman-temannya. Terlihat dari wawancara tersebut siswa dituntut untuk berbicara walaupun menggunakan bantuan teks.

 Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum kegiatan muhadharah dimulai, berikut wawancara dengan guru pembimbing muhadharah:

“ yang harus dipersiapkan sebelum kegiatan muhadharah dimulai dari segi tempat dan siswa yaitu menyuruh siswa membersihkan mushola, membentang karpet, menyiapkan microfon, menyiapkan al-Quran, menyiapkan al-barjanji dan saya sebagai pembimbing muhadharah kadang dibantu oleh wakil kesiswaan untuk mengatur posisi duduk dan menenangkan siswa agar diam dan kegiatan muhadharah segara dimulai. Kadang harus keliling kelas dulu mengecek siswa yang belum ke mushola agar cepat kemushola. Sudah diajarkan disiplin jam 07.15 harus sudah ada di mushola terkadang masih ada siswa yang tidak mengikuti aturan”. ( wawancara 09 Januari 2020)

Dapat disimpulkan bahwasanya sebelum kegiatan  muhadharah dimulai hal yang perlu disiapkan dari segi tempat yaitu membersihkan mushola, membentang karpet menyiapkan al-Quran, menyiapkan al-barjanji serta menyiapkan microfon,dan dari segi siswa yaitu mengordinir agar segera berkumpul di mushola, mengatur tempat duduk, dan menenangkan siswa agar muhadharah segera dimulai.

Dalam kegiatan muhadharah ada enam rangkaian kegiatan yaitu:

  1.  MC (Master of Ceremony)

 Kegiatan muhadharah tidak hanya berupa penyampaian pidato saja ada didalamnya MC Yang dipraktekkan oleh siswa sebelum memulai jalannya muhadharah, agar siswa terbiasa membawakan acara ketika ada acara didalam ataupun diluar sekolah. Berikut wawancara dengan pembimbing muhadharah:

“kegiatan yang dilakukan tidak hanya berpidato mulai dari pembawa acara atau MC ( Master of Ceremony) untuk berlatih dan belajar memimpin acara kemudian pembacaan ayat suci Al-Quran, pembacaan sari tilawah, pembacaan sholawat, pembacaan al-barjanji, dan do’a. Pembawa acara adalah petugas yang wajib ada, karena acara di pegang oleh MC oleh karena  itu kapan petugas harus tampil ditunjuk oleh MC.” ( wawancara 09 Januari 2020)

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwasannya suatu acara tanpa adanya MC atau orang yang memberi aba-aba tidak akan bisa berjalan. Bukan hanya sebagai pengatur jalannya acara namun juga melatih diri untuk terbiasa berbicara.



  1. Pembacaan ayat suci al-Quran dan saritilawah

Kegiatan  yang bersifat agamis di SMPN 27 Kabupaten Tebo tidak terlepas adanya pembacaan ayat suci al- Quran serta saritilawah tujuannya yaitu untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT Pada setiap kegiatan yang dilakukan. Wawancara dengan pembimbing muhadharah sebagai berikut:

“kegiatan agamis di SMPN 27 Kabupaten Tebo tidak terlepas dari pembacaan tilawah dan saritilawah. Yang dibawakan oleh siswa, karena untuk melatih siswa dalam  mengasah kemampuan membaca al-Quran. Apalagi dalam muhadharah semua dilakukan oleh siswa dari mulai MC, pembacaan ayat suci al-Quran, pembacaan saritilawah pembacaan sholawat, penyampain kultum dan doa.” (wawancara 09 Januari 2020)


Dari ungkapan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebelum memulai semua aktifitas baiknya kita mencari Ridho Allah SWT agar apa yang kita kerjakan bermanfaat bagi kita, dan didalam latihan  muhadharah tidak hanya melatih pidato saja namun pembacaan ayat suci al –Quran dan saritilawah juga bisa untuk mengasah kemampuan siswa dalam membaca al-Quran.

Berikut wawancara dengan  siswa:

“ saya suka membaca saritilawah karena jika dapat tugas untuk membaca saritilawah tinggal membaca saja tidak perlu menghafal ataupun memakai gerakan-gerakan, hanya membaca dan perlu intonasi saja ketika membaca saritilawa”.(wawancara 10 Januari 2020)

Dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa senang ketika mendapat tugas membaca saritilawah karena tidak perlu menghafal cukup dengan membaca teks.

  1. Pembacaan sholawat

 Bukan hanya MC, pembacaan ayat-suci al-Quran dan sari tilawah saja namun ada juga pembacaan sholawat nabi didalam kegiatan muhadharah agar mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW di hari akhir kelak.

  1. Pembacaan al-barjanji

 Didalam kegiatan muhadharah terdapat juga pembacaan al- barjanji guna untuk melatih siswa agar terbiasa menyampaikan dalam bentuk membaca ataupun sudah dihafal.

  1. Kultum

 Kultum adalah inti dari kegiatan muhadharah, yaitu menyampaikan ceramah dengan durasi waktu 7 menit. Materi yang disampaikan seputar keagamaan, motivasi ataupun nasehat-nasehat. Kegiatan ini adalah kegiatan yang banyak di takuti oleh sebagian siswa. berikut wawancara dengan  siswa:

“ menjadi petugas kultum menurut saya menakutkan untuk saya, karena dituntut untuk bisa berbicara didepan, ya memang sudah di latih terlebih dahulu dan boleh melihat teks ketika lupa materi tetapi itu hal yang tidak biasa kita lakukan berbicara didepan teman-teman dan guru, dan jika salah akan kena ejek teman-teman.” ( wawancara 10 Januari 2020)


Disisi lain ada juga siswa yang ketika di tunjuk sebagai petugas kultum menyukainya, karena siswa tersebut mempunyai bakat dan rasa percaya diri ketika berbicara di depan orang banyak. Berikut wawancara dengan  siswa:

“ saya suka ketika mendapat tugas kultum, karena selain melatih saya berbicara didepan orang banyak saya juga dapat membagi ilmu yang saya sampaikan, dari yang sebelumnya teman-teman belum tahu menjadi tahu.” ( wawancara 10 Januari 2020)

Dari wawancara tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadi petugas kultum di senangi oleh siswa karena mereka mempunyai bakat dan mempunyai wawasan yang luas serta sadar akan kemampuannya dalam berpublic speaking bagus dan tidak menyia-nyiakan kemampuannya sehingga ia berani berbicara di depan. menjadi petugas kultum tidak disenangi oleh siswa sebab ia takut dan tidak terbiasa berbicara didepan dan belum mempunyai kesadaran akan pentingnya dan manfaat ketika pandai berbicara didepan.

  1. Doa

Doa adalah bentuk rasa syukur kita terhadap Allah SWT karena telah diberikan karunianya sehingga dalam suatu acara dapat berjalan lancar dengan seiizinnya.

Dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan muhadharah terdapat lima rangkaian kegiatan yaitu yang pertama: MC (Master of Ceremony) atau yang biasa disebut pembawa acara. Yang kedua: pembacaan ayat suci al-Quran,. Yang ketiga: pembacaan saritilawah. Yang keempat: penyampaian kultum dan yang terakhir adalah pembacaan doa.


  1. Kendala kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk  meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo

   Kegiatan muhadharah dilaksanakan di musholah milik sekolah, setiap jumat pagi yang diikuti oleh semua siswa, dan masing-masing  mempunyai karakter serta pribadi yang berbeda-beda tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa berlangsungnya kegiatan  muhadharah tersebut terjadi adanya kendala yang membuat proses kegiatan muhadharah menjadi kurang optimal.

  Kendala kegiatan ekastrakurikuler muhadharah dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo adalah:

  1. Kurangnya minat  siswa dalam mengikuti kegiatan muhadharah 

   Pelaksanaan kegiatan muhadharah perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas guru pembimbing muhadharah serta didukung dengan siswa siswi dalam menciptakan suasana  yang kondusif. 

   Hasil observasi peneliti di SMPN 27 Kabupten Tebo, menemukan bahwa siswa memang terbilang kurang antusias dalam mengikuti kegiatan muhadharah. Karena dalam kegiatan muhadharah tidak ada hal-hal baru yang membuat siswa tertarik dengan kegiatan tersebut. Sehingga  siswa cenderung tidak memperhatikan dan mengerjakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan muhadharah. Saat kegiatan muhadharah berlangsung siswa ada yang tidak memperhatikan terkhusus dikalangan siswa laki-laki. Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dengan guru pembimbing muhadaharah beliau menyatakan:

“Faktor penghambat dan penunjang sebenarnya tergantung pada siswa. Saya berusaha memberikan teguran serta motivasi semaksimal mungkin agar siswa sadar dan mau mengikuti aturan ketika kegiatan muhadharah berlangsung, kadang ada juga siswa yang acuh dan cuek terhadap kegiatan muhadharah ini karena dalam diri siswa tersebut belum tertanam rasa mengharagai satu sama lain serta rasa cinta terhadap ilmu apalagi ilmu agama yang meraka bisa dapat dari materi muhadaharah yang disampaikan saat kegiatan berlangsung. Siswa yang mengikuti aturan ketika kagiatan muhadharah berlangsung karena dalam dirinya itu sudah ada yang mendorongnya, mereka sadar bahwa akan ada manfaatnya untuk diri mereka pribadi dan orang lain dari kegiatan muhadharah tersebut.”(Wawancara 09 Januari 2020)


  Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan kecakapan public speaking  dalam mengikuti kegiatan muhadharah  yang dilakukan oleh guru pembimbing pada kegiatan muhadharah tetap ada kendala. Kendalanya ini disebabkan dari siswanya sendiri yang tidak mau merespon terhadap pembimbing muhadharah  dalam memberikan  teguran dan motivasi pada proses kegiatan muhadharah. Di dalam diri anak ini tidak ada keinginan yang bisa menyebabkan dia terdorong untuk memperhatikan rangkaian kegiatan muhadharah.


  1. Faktor lingkungan dan teman yang belum mendukung

Ada beberapa kendala yang lain lagi sebagai penghambat dalam strategi ini seperti yang diungkapkan oleh guru pembimbing muhadharah sebagai berikut:

“Sebenarnya faktor penghambat dalam meningkatkan kecakapan public speaking yaitu dari faktor internal dan eksternal. Internalnya adalah berasal dari keinginan sendiri yang belum ada kesadaran terhadap pentingnya kegiatan muhadharah. Sedangkan eksternalnya, salah satunya berasal dari teman yang belum mendukung. ”(Wawancara 09 Januari 2020)


  Penjelasan di atas memberikan beberapa point terkait faktor penghambat menurut guru pembimbing muhadharah yaitu adanya faktor internal dan eksternal yang dapat menghambat peningkatan kecakapan public speaking siswa. Internal berasal dari diri sendiri yang belum adanya kesadaran terhadap manfaat kegiatan muhadharah bagi kehidupan sekarang dan nanti bagi dirinya. Sedangkan faktor eksternalnya adalah teman- teman disekelilingnya.


  1. Sebagian Siswa Merasa Takut Menjadi Petugas Kegiatan Muhadharah

  Muhadharah adalah salah satu kegiatan disekolah  yang harus di ikuti oleh siswa. Dalam mengikuti kegiatan muhadharah terlihat petugas-petugas muhadaharah tidak percaya diri, karena, jika saat bertugas dan ada kesalahan atau kekeliruan maka peserta muhadharah akan menyoraki petugas muhadharah bahkan ada yang melempar kertas. (Observasi 10 Januari 2020). Berikut wawancara dengan salah satu siswa mengatakan:

“Saya merasa sangat takut saat menjadi petugas kegiatan muhadharah, karena jika ada teman yang bertugas dan meraka melakukan kesalahan maka siswa yang menjadi peserta muhadaharah akan menyoraki dan saling melempar kertas. Saya merasa takut dan malu jika saat bertugas melakukan kesalahan, itu sebabnya saya tidak mau menjadi petugas muhadharah”. (wawancara 10 Januari 2020)


  Dari hasil wawancara peneliti Tarik kesimpulan siswa yang menjadi petugas muhadharah merasa takut dan malu karena siswa-siswa yang jail ketika muhadharah berlangsung.


  1. Faktor alam

   Muhadharah dilaksanakan pada pagi hari, tentu hal ini menuntut agar siswa datang lebih awal dari hari biasanya, dan cuaca tidaklah setiap hari selalu cerah terkadang juga terjadi turun hujan, hal ini juga  masuk dalam salah satu kendala kegiatan muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo. Sebab bila turun hujan pada hari jum’at pagi, maka siswa banyak yang datang terlambat bahkan ada siswa yang menggunakan kesempatan ini untuk tidak masuk sekolah dengan alasan hujan, karena  mereka menghindari sebagai petugas muhadharah

Berikut wawancara dengan  siswa mengatakan:

“saat hujan turun pada hari jum’at itulah yang kami tunggu-tunggu karena dengan turun hujan kita bisa berangkat sedikit lebih telat dan bahkan tidak hadir. Dengan begitu kami tidak menjadi petugas muhadharah pada hari itu, dan tugas tersebut digantikan oleh teman kita yang lain.” ( wawancara 10 Januari 2020)


 Berikut juga wawancara dengan guru pembimbing muhadharah beliau mengatakan bahwa:

“ya faktor penghambat kegiatan muhadaharah di SMPN 27 ini juga   datang dari alam, jika turun hujan banyak sekali siswa yang datang terlambat. khususnya yang ditunjuk sebagai petugas muhadharah mereka  seperti dengan sengaja ada yang tidak hadir ke sekolah jika ditanya mereka menjawab, tidak datang dengan alasan hujan .” ( wawancara 09 Januari 2020)


  Dari hasil wawancara peneliti tarik kesimpulan bahwa ketika hari jum’at turun hujan siswa memanfaatkan kesempatan untuk menghindarkan diri menjadi petugas muhadharah.

   Dengan adanya kendala demikian maka ekstrakurikuler muhadharah sebenarnya merupakan salah satu kegiatan yang cukup efektif untuk melatih keberanian dan mengembangkan kecakapan public speaking siswa seperti tanggung jawab dan mandiri. Berani berbicara didepan banyak orang walaupun ia masih teman sebayanya dan juga didampingi oleh guru pendamping yang siap membimbing dan memberi dukungan. Siswa yang memiliki keterampilan muhadharah dengan baik merupakan modal awal bagi dirinya untuk terjun kemasyarakat, baik yang akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi ataupun masyarakat yang sesungguhnya. Dan apabila keberanian dan kemampuan ini dikembangkan dengan baik maka tidak menutup kemungkinan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler muhadharah ini akan menjadi seorang orator yang hebat yang bisaa menempatkan dirinya dihadapan khalayak ramai yang beraneka ragam.


  1. Solusi Yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Muhadharah Untuk  Meningkatkan Kecakapan Public Speaking Siswa Di SMPN 27 Kabupaten Tebo

Adapun solusi yang dilakukan guru pembimbing muhadharah untuk mmeningkatkan kecakapan public speaking berikut wawancara dengan guru pembimbing muhadharah:

“ sulusi dari kendala-kendala kegiatan muhadharah dari segi petugas maupun peserta muhadharah yaitu dari cara  yang lembut sampai dengan yang tegas sudah dilakukan diantaranya yaitu  memberikan pujian  dan motivasi kepada siswa yang telah berhasil dan melaksanakan tugasnya dengan baik supaya mereka merasa dihargai usahanya dan supaya mereka semangat dalam mengikuti kegiatan muhadharah, melakukann pendekatan kepada siswa dan  memberikan pelatihan untuk siswa agar mampu tampil semaksimal mungkin, mewajibkan siswa membawa buku untuk mencatat inti dari isi kultum, memeriksa buku khusus muhadharah secara mendadak,  menegur siswa yang tidak memperhatikan muhadharah, memberikan hukuman bagi siswa yang sering melanggar aturan dalam muhadharah dan mencarikan pengganti siswa yang bertugas ” ( wawancara 11 Januari 2020)


  1. Memberi  pujian dan motivasi

       Pujian adalah salah satu bentuk untuk membuat seseorang bangga terhadap dirinya. Pujian juga suatu pernyataan yang bersifat positif tentang seseorang dengan tulus dan sejujurnya. Pujian juga merupakan sebuah ucapan yang membuat orang lain merasa tersanjung sehingga dapat juga memberikan motivasi kepada orang yang dipuji. Berikut wawancara dengan  guru pembimbing muhadharah:

“pujian ini diberikan kepada siswa apabila siswa tersebut sukses dan berhasil sebagai petugas muhadharah pujian ini juga dapat membuat siswa termotivasi agar semakin semangat dalam mengembangkan kemampuannya.”(wawancara 11 Januari 2020)

     Peneliti tarik kesimpulan bahwa memberikan pujian sangat berpengaruh untuk mental siswa dan juga sebagai salah satu bentuk motivasi untuk mengikuti muhadharah disekolah.

     

Sebagai salah satu bentuk motivasi diadakan sebuah porlombaan , yaitu perlombaaahn muhadharah antar kelas. Berikut ungkapan guru pembimbing muhadharah  mengadakan perlombaan dengan tujuan sebagai motivasi siswa:

“Ada salah satu acara di SMPN 27 Kabupaten Tebo yaitu mengadakan lomba muhadharah antar kelas ketika ada PHBI ( Peringatan Hari Besar Islam) yang bisa jadi acara ini adalah salah satu cara untuk membuat siswa menampilkan yang terbaik dalam kegiatan tersebut mereka akan berusaha menampilkan yang terbaik. Diharapkan dengan adanya perlombaan ini mereka dapat termotivasi karena dalam suatu perlombaan tidak terlepas ada reward untuk penampilan kelas yang terbaik.” ( wawancara 11 Januari 2020)


Jadi dapat di simpulkan bahwa diadakannya perlombaan muhadaharah yaitu untuk momotivasi siswa dan menarik perhatiannya agar menampilkan yang terbaik yang mereka bisa.


  1. Melakukan pendekatan dan melatih siswa

Ungkapan guru pembimbing muhadharah tentang pendekatan yang dilakukan kepada siswa:

“ solusi ini dapat digunakan untuk siswa yang takut dan  sama sekali tidak mau mencoba sebagai  petugas muhadharah. Jadi saya melakuka pendekatan kepada siswa–siswa yang demikian membujuknya dengan kata-kata yang menyentuh hati, dengan kata-kata yang membangkitkan rasa ingin bisa dan supaya siswa bisa seperti siswa-siswa yang lainnya berani dan mampu berbicara didepan.” (wawancara 11 Januari 2020)


Dapat disimpulkan bahwa cara ini dilakukan guru pembimbing muhadharah untuk membujuk siswa yang sama sekali belum pernah menjadi petugas muhadharah agar siswa tersebut tergugah hatinya untuk mencoba

Diadakannya pelatihan sebelum kegiatan muhadharah dimulai, dapat memudahkan dan membantu siswa untuk mempersiapkan dirinya ketika bertugas. berikut wawancara dengan guru pembimbing muhadharah:

“saya melatih siswa sebagai petugas muhadharah agar mereka mempunyai kesiapan yang matang dan tidak asal-asalan saat tampil didepan. Agar mereka tau apa yang harus mereka lakukan. Mengajari bagaimana menjadi MC yang baik, menjadi pembaca ayat suci al-Quran yang fasih,  membacakan saritilawah dengan intonasi yang pas, membaca al barjanji dengan irama yang bagus serta penyampaikan kultum yang menarik bagi pendengar.” (wawancara 11 Januari 2020)


   Dapat disimpulkan bahwa adanya latihan muhadharah ini agar kegiatan muhadharah berjalan dengan lancar dan menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan.


  1. Menyediakan buku khusus muhadharah , melakukan pengecekan buku, memberi teguran dan memberi hukuman

Terlihat saat kegiatan muhadharah berlangsung, siswa terdiam ketika pembawa kultum mulai mengucap salam dan siswa sibuk membuka buku untuk mencatat. Terlepas mencatat atau tidak materi kultum tersebut terlihat bahwa mereka semua membawa dan membuka bukunya. Cara ini adalah salah satu solusi agar muhadharah berjalan secara efektif tidak ribut dan tenang . ( observasi 10, 17 dan 24 Januari 2020)

   Berikut ungkapan guru pembimbing muhadharah:

 “ menyediakan buku khusus muhadharah yaitu  agar siswa mencatat inti dari kultum yang disampaikan oleh temannya dan bertujuan agar siswa mengetahui apa isi dari kultum tersebut sehingga siswa tidak bercerita maka akan mengurangi keributan.” (wawancara 11 Januari 2020)


Dapat disimpulkan bahwa salah satu cara ini adalah cara yang lumayan efektif untuk menenagkan siswa yang ribut saat muhadharah berlangsung.

Bukan hanya menyediakan buku dan mencatat inti dari isi kultum saja, tetapi guru pembimbing muhadharah juga mengecek buku catatan muhadharah siswa. Berikut wawancara dengan guru pembimbing muhadharah:

“ mengecek buku dilakukan agar saya sebagai pembimbing muhadharah mengetahui sejauh mana siswa memperhatikan ketika petugas kultum menyampaikan materinya, bukan hanya melatih siswa untuk mengembangkan kecakapan dalam berbicara saja tetapi juga menanamkan ilmu-ilmu keagamaan untuk siswa,  dalam pribahasa sekali mendayuh dua pulau terlampaui. Pengecekan buku ini dilakukan secara mendadak tanpa memberi pengumuman kepada siswa dari itu kita tahu berapa banyak siswa yang memang benar-benar memperhatikan dan medengarkan. Jika pengecekan ini di umumkan terlebih dahulu maka siswa yang tidak pernah memperhatikan dan tidak pernah mencatat akan mencontek catatan teman untuk  melengkapi catatan dan menghindari hukuman.” (wawancara 11 Januari 2020)


Dari wawancara tersebut peneliti tarik kesimpulan bahwa pengecekan buku  dilakukan secara mendadak tanpa memberi pengumuman terlebih dahulu kepada siswa, dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa memperhatikan dan memahami materi yang telah petugas sampaikan terutama petugas kultum. 


  Dalam hal ini guru pembimbing muhadharah juga menetapkan adanya hukuman sebagai solusi untuk mengatasi kendala-kendala dalam pelaksanaan ekstrakurikuler muhadharah. Sebelum menghukum siswa yang tidak mematuhi aturan yang ada  terlenih dahulu pembimbing muhadharah menegur siswa tersebut dan  hukuman akan diberikan kepada siswa jika siswa tidak bisa di tegur dan diingatkan secara halus. Pernyataan guru pembimbing muhadharah sebagai berikut:

“ sebelum adanya hukuman maka terlebih dahulu di beri teguran atau peringatan, ini ditujukan kepada siswa yang ketika kegiatan muhadharah berlangsung ada siswa yang tidak memperhatikan dan tidak mengikuti aturan. Mengevaluasi yaitu ditujukan untuk petugas-petugas muhadharah agar petugas-petugas yang akan datang dapat memperbaiki. Evaluasi ini dilakukan ketika muhadharah selesai jadi tujuannya agar semua siswa bisa tau apa-apa saja yang harus mereka perbaiki agar tampil maksimal menjadi petugas muhadharah.”(wawancara 11 Januari 2020)


Dari wawancara tersebut peneliti tarik kesimpulan bahwa guru pembimbing muhadharah tidak langsung memberi hukuman melainkan menegur atau menasehati siswa yang melanggar aturan dan tidak memperhatikan ketika kegiatan muhadharah berlangsung.dan memberikan evalusai  petugas muhadharah guna untuk memperbaiki kesalahan dan dapat diambil pelajaran untuk petugas muhadaharah selanjutnya.

Hal ini dilakukan ketika siswa sudah benar-benar tidak bisa di ingatkan secara halus maka akan ada hukuman. Berikut wawancara yang dikatakan oleh guru pembimbing muhadharah:

“ jadi hukuman akan berlaku ketika siswa tidak bisa lagi ditegur dengan cara yag halus, yaitu berupa hukuman yang mendidik, diminta membaca surat yasin, membersihkan mushola, membersihkan halaman sekolah dan membersihkan wc. Hukuman ini ada agar siswa jera dan tidak mengulangi hal-hal yang membuat kegiatan muhadharah berjalan tidak kondusif.” (wawancara 11 Januari 2020)


Dapat disimpulkan bahwa ketika siswa tidak bisa ditegur dengan cara yang halus maka akan ada hukuman bagi mereka. Hal tersebut dilakukan agar siswa jera dan tidak melakukan hal yang di larang saat muhadharah sedang berlangsung.


  1. Mencari pengganti siswa yang bertugas

Hal ini dilakukan untuk mengatasi kendala dari alam, berikut wawancara yang peneliti lakukan dengan guru pembimbing muhadharah:

“Jadi jika siswa yang ditunjuk sebagai petugas muhadharah  terlambat datang atau tidak hadir, dengan terpaksa harus mencari penggantinya secara mendadak, agar muhadharah tetap berjalan seperti biasanya, dalam hal ini dicari pengganti yang dapat dibilang mempunyai kemampuan diatas rata-rata dalam berbicara di depan keramaian atau pablic agar tidak memakan waktu harus latihan terlebih dahulu atau lain sebagainya.” (wawancara 11 Januari 2020)


Pembimbing muhadharah juga mengatakan:

“Memang tidak mudah menunjuk siswa secara tiba-tiba untuk bertugas dan siswa tidak dibekali dengan latihan, ya walaupun siswa yang ditunjuk itu mempunyai kemampuan diatas rata-rata tapi masih saling tunjuk menunjuk karena bukan tugas mereka.” ( wawancara 11 Januari 2020)


Peneliti tarik kesimpulan bahwa muhadharah tetap dilaksanakan dengan cara menunjuk secara tiba-tiba untuk menggantikan petugas muhadharah supaya muhadharah tetap berjalan sabagai mana mestinya.

 jadi solusi-solusi dari kendala efektivitas kegiatan ekstrakurikuler muhadharah untuk meningkatkan kecakapan public speaking yaitu:

  1. Memberi pujian dan memotivasi Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil sebagai pertugas muhadharah, perlu segera diberikan pujian.

  2. Menyediakan buku khusus muhadharah. Yaitu untuk mencatat mengenai materi atau intisari dari kultum. Mengecek buku secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Dengan ini dapat mengetahui sejauh mana siswa memperhatikan ketika muhadharah berlangsung.

  3. Melatih siswa menjadi petugas muhadharah. Hal ini bisa membantu siswa untuk mempersiapkan diri menjadi petugas muhadharah secara maksimal. Melakukan pendekatan pada siswa. hal ini dilakukan kepada siswa tertentu  agar siswa mau mencoba dan memberanikan diri berbicara dan menjadi petugas muhadharah. Memberikan teguran bagi siswa yang tidak memperhatikan ketika muhadharah. Memberi hukuman untuk siswa yang tidak bisa di tegur secara halus agar mereka jera.

  4. Mencari pengganti siswa yang bertugas. Hal ini dilakukan agar kegiatan muhadharah tetap berjalan seperti biasanya.



BAB V
PENUTUP

  1. Kesimpulan

  1. Kegiatan ektrakurikuler muhadharah di SMPN 27 Kabupaten Tebo yaitu kegiatan yang wajib diikuti oleh setiap siswa, dilaksanakan di mushola SMPN 27 Kabupaten Tebo pada hari jumat pagi, di mulai pada pukul 07.30- 08.15 WIB. didalam muhadharah terdapat yang pertama pembawa acara atau MC (Master of Ceremony), pembacaan ayat suci al-Quran, pembacaan saritilawah, pembacaan al-barjanji, penyampaian kultum, dan diakhiri dengan doa.

  2. Kendala  yang dihadapi oleh guru pembimbing muhadharah yaitu: Kurangnya minat  siswa dalam mengikuti kegiatan muhadharah, Faktor lingkungan dan teman yang belum mendukung, Sebagian Siswa Merasa Takut di Tunjuk Sebagai Petugas Kegiatan, Muhadharah  dan Faktor alam.

  3. Solusi yang dilakukan guru pembimbing muhadharah dalam meningkatkan kecakapan public speaking siswa di SMPN 27 Kabupaten Tebo yaitu: Memberi pujian dan motivasi, menyediakan buku khusus muhadharah, mengecek buku secara tiba-tiba, Melatih siswa menjadi petugas muhadahrah, melakukan pendekatan pada siswa, memberikan teguran pada siswa dan memberi hukuman. Mencari pengganti petugas muhadharah.


  1. Saran 

Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

  1. Bagi Kepala Sekolah 

Kepala sekolah SMPN 27 Kabupaten Tebo agar lebih memantau kegiatan ekstrakurikuler muhadharah dan memberi perkembangan agar kegiatan berjalan dengan lancar dan lebih ba

  1. Bagi Guru Pembimbing Ekstrakurikuler Muhadharah

  1. Guru harus mendukung siswanya agar mau untuk mengikuti kegiatan ektrakurikuler muhadharah yang dilaksanakan oleh sekolah untuk  meningkatkan rasa kemampuan ber public speaking dan meningkatkan rasa percaya diri pada siswa

  2. Guru hendaknya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya  memiliki kemampuan ber public speaking serta rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab pada siswa agar senantiasa melaksanakantugas yang diberikan.

  1. Bagi siswa

  1. Siswa hendaknya lebih bersemangat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler muhadharah yang diadakan oleh sekolah.

  2. Siswa hendaknya lebih memiliki rasa semangat untuk tampil didepan teman-teman

  3. Agar penampilan maksimal hendaknya siswa berlatih dengan sungguh-sungguh.


  1. Penutup

Penulis dapat menyadari bahwa penyusunan skripsi inimasih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran ilmiah yang dapat membangun sangat penulis harapkan demi penyempurnaan skripsi ini atas bantuan yang memohon ridhonya semoga skripsi ini dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pihak.diberikan , penulis hanya dapat mengucapkan terimakasih dan teriring doa semoga mendapat balasan dari Allah SWT. Akhirnya penulis harap dan mohon Ridho-Nya semoga skripsi ini dapat diterima dan dapat bermanfaat bagi semua.







DAFTAR PUSTAKA


Amirulloh,Syarbini. Buku Panduan Guru Hebat Indonesia. Yogyakarta: ArRuzz, 2015

Arikunto, Suharsimi. Menejemen Penelitian. Cet. V. Jakarta: Rineka Cipta,  2002

Asep Heri dkk. Pengembangan Kurikulum Pembelajaran. Jakarta :
Universitas Terbuka, 2006

Bambang Syamsul Arifin.Psikologi Sosial. Bandung: Pustaka Setia, 2015

Deni Darmawan. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013

Edi Harapan dan Syarwani Ahmad.Komunikasi Antarpribadi Perilak, 2016

Fitriana utami dewi. Public speaking: kunci sukses bicara di depan publik.Yogyakarta:pustaka belajar, 2018

Haris,Herdiyansyah.Wawancara, Observasi dan Fokus Groups (Sebagai Instrumen Penggalian Data Kualitatif), 2013

Imam An-Nawawi.Riyaddhus Shalihin. Solo. Insan Kamil Solo. 2015

Jam’an  Satori.  Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabet, 2009

Kementerian Agama RI Direktorat jenderal Pendidikan Islam Direktorat. Pendidikan Agama Islam.Panduan Kegiatan Ekstrakurikuler, 2014

Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011

Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2014

Muhammad Maliki. Public speaking. Pekan Baru, Riau: kutlah media, 2014

Muhammad Zaini. Pengembangan Kurikulum: Konsep Implementasi
Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta : Penerbit Teras,  2009

Nasution. Metode penelitian naturalistik-kualitatif. Bandung: Tarsito, 2006

Oh Su Hyang. Bicara itu ada seninya. Jakarta: Buana Ilmu Popular, 2018

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2012

Sukardjo dan Ukim Komarudin. Landasan Pendidikan : Konsep dan
aplikasinya. Jakarta: Rajawali Press, 2010 

Zikri Fachrul Nurhadi, Ahmad Wildan Kurniawan: Jurnal Penelitian,  2017

Zuriah, Nurul. Metodologi pendidikan sosial. Jakarta: Bumi Aksara,  2009



0 comments:

Postingan Populer

Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Kota Jambi, Indonesia

Putra Muaro Bungo

Putra Muaro Bungo
Jadilah Diri Sendiri Tanpa Berharap Kepada Manusia

Simpel Aja

Simpel Aja

PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)

My Famili

SELAMAT DATANG DI BLOK

KHAIRUL AKMAN, S.Pd.I KHAIRUL AKMAN, S.Pd.IKHAIRUL AKMAN, S.Pd.IKHAIRUL AKMAN, S.Pd.IKHAIRUL AKMAN, S.Pd.I

Pengikut

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

TERIM KASIH

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DI BLOG KAMI SEMOGA BERMANFAAT