Senin, 01 Juni 2026

 

خطبة عيد الأضحى

IDUL QURBAN MENUJU

SOLIDARITAS DAN KEPEDULIAN

 

 

اَللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ.

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا  وَالْحَمْدُ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مَلِكِ الْقَهَّارِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ تَتَوَالَى كَالْأَمْطَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى مُتَرَادِفِ فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِي قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ الْأَبْرَارِ.

اَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ  فَصِيْلٌ وَعِيدٌ شَرِيفٌ جَلِيلٌ رَفَعَ اللهُ تَعَالَى قَدْرَهُ وَأَظْهَرَ وَسَمَّاهُ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah

 

Kurang lebih dua bulan yang lalu, kita telah merayakan Idul Fitri, mensyukuri kemurahan fitrah rohani kita, merayakan kemenangan kita, setelah menjalani ibadah puasa, pembersihan total selama satu bulan Ramadhan. Hari ini di pagi ini kita kembali mendatangi masjid-masjid, lapangan-lapangan, dan tempat-tempat shalat lainnya untuk merayakan Hari raya Islam yang kedua, ‘Idul Adha, Hari Raya Qurban.

 

Idul Adha biasa pula disebut Hari Raya Haji karena diadakan pada tanggal 10 Dzulhijjah, saat mana sebagian umat Islam sedang melaksanakan rentetan Ibadah haji di Mekkah Al-Mukarramah setelah berwukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, pada saat ini jutaan kaum Muslimin yang berasal dari berbagai pelosok dunia termasuk dari Indonesia, sedang tenggelam dalam bahana takbir, dan lebur dalam alunan Talbiyah yang kumandangkan silih berganti.

 

Allahu Akbar 3 x

Hari Raya IdulAdha mengandung peristiwa sejarah yang agung melibatkan dua tokoh besar, dua orang Rasul Allah yang tetap dikenang sepanjang masa, Nabi Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s.

 

Ibrahim adalah Abul AnbiyaBapak para nabi dan Rasul pendiri agama Tauhid. Ia menempati posisi unik dalam Islam. Tiada Rasul lain yang dianjurkan untuk dishalawati dalam shalat kita, sesudah Muhammad SAW selain Ibrahim a.s. Ibrahim a.s. adalah seorang figur, seorang pemimpin masyarakat yang besar, seorang tokoh pembaharu yang berhasil merancang sekaligus melaksanakan revolusi akidah dan moral di zamannya. Ia berontak terhadap masyarakat, bahkan menggugat orang tua asuhnya, Azar, yang larut dalam penyembahan berhala dan   Hanif, agama yang sesuai fitrah manusia.

 

Tradisi kurban yang menjadi salah satu ajaran doktrin Islam, juga berawal dari peristiwa yang dilakukan oleh Ibrahim dan putranya Ismail a.s. Perhatian sejarah itu terekam dalam semua kitab Suci Samawi dan terlukis secara sangat dramatis dalam al-Quran (As Shaffat/37:102 dst).

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

(Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai pada (umur mampu) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan pada mu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar)

 

Ketaatan dan kepatuhan Ibrahim dan Ismail memenuhi perintah Tuhan secara ikhlas telah diterima Allah SWT. Dengan kemahakuasaan-Nya, Ismail diganti dengan seekor kibas yang sehat (وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ) dan sinilah berawal tradisi kurban bagi pengikut-pengikut Ibrahim, khususnya umat Muhammad SAW.

Ketahuilah bahwa kurban-kurban yang kita sembelih itu tidak akan sia-sia. Sebab akan menjadi kendaraan kita di akhirat nanti. Dan juga kurban-kurban yang kita sembelih itu seperti unta, kerbau, lembu dan kambing semuanya itu akan menjadi penyelamat bagi yang berkurban. Disebutkan di dalam sebuah Hadist Nabi Muhammad Saw yang berbunyi :

 

اَلاَ إِنَّ اْلأُضْحِيَّةَ مِنَ الْأَعْمَالِ الْمُنْجِيَةِ تُنْجِيْ صَاحِبَهَا مِنْ شَرِّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (الحديث)

 

Artinya : Ketahuilah bahwasanya kurban-kurban itu termasuk amal-amal penyelamat, yang menyelamatkan orang yang melakukannya dari kejahatan dunia dan akhirat.

 

Dan ancaman bagi orang-orang yang mampu tetapi tidak mau berkurban yaitu hadist Nabi Muhammad Saw mengatakan :

 

مَنْ لَهُ سَعَةٌ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُوْدِيًّا وَإِنْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا (حديث)

 

Artinya : Barang siapa mempunyai kelapangan rizki tetapi tidak mau berkurban, maka mati sajalah ia, kalau ia mau sebagai orang yahudi, dan kalau ia mau sebagai orang Nasrani.

 

   Nah inilah ancaman dari Rasulullah SAW bagi orang yang mampu untuk berkurban tetapi tidak mau untuk mengerjakannya. Maka dari itu marilah kita berkurban demi untuk keselamatan kita di dunia dan di akhirat kelak. Berkurban itu juga sebagai jalan untuk bertaqarrub atau mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

 

اللهُ أَكْبَرُ ٣× وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

 

Meskipun ajaran kurban merupakan doktrin setiap agama termasuk agama-agama budaya, namun Ibrahim a.s dan Muhammad Saw telah mengubah kebiasaan umat terdahulu yang mengorbankan manusia biasa, wanita-wanita cantik dan pemuda-pemuda gagah untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa. Sejak zaman Nabi Ibrahim As, kebiasaan mengorbankan manusia telah dihapus dan digantikan dengan menyembelih hewan yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat banyak.

 

Hikmah yang dapat dipetik dari ajaran ini adalah bahwa manusia sama sekali tidak bisa dikorbankan dengan dalih apapun, termasuk dalam perbaikan dan pembangunan Bangsa. Bahwa yang dikorbankan adalah binatang memberikan petunjuk bahwa sifat-sifat kebinatangan yang sering melekat pada manusia haruslah dibuang jauh-jauh. Misalnya sifat mau menang sendiri, rakus dan serakah, curiga kepada semua orang, menjadikan manusia lain sebagai mangsa, sifat kesombongan dan keangkuhan dan sebagainya. Islam juga mengajarkan agar hewan yang dikorbankan yang sempurna tanpa cacat. Ini memberi petunjuk bahwa pengorbanan dalam hidup haruslah dalam batas maksimal. Jangan setengah-setengah, jangan tanggung-tanggung, tetapi persembahkanlah korban dengan seikhlas-ikhlasnya hanya kepada Allah. Berikanlah apa yang paling engkau cintai untuk kemuliaan agamamu untuk memperoleh keridhoan Allah SWT.

 

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّونَ (آل عمران : ٩٢)

 

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang sangat kamu cintai. (QS. 3:92)

 

Lihatlah Nabi Ibrahim ia diperintahkan oleh Tuhan untuk mengorbankan putra kesayangannya, buah hati, si jantung hatinya, Ismail. Dan memenuhi perintah itu, Ibrahim melaksanakannya dengan penuh keikhlasan, meskipun ia harus berperang dengan gejolak hati dan jiwanya, meskipun ia harus bertarung dengan iblis yang menghalang-halanginya.

 

Hal ini berarti secara metaforis, dikatakannya bahwa pada dasarnya setiap orang bisa berperang sebagai Ibrahim yang memiliki “Ismail”. Tetapi “Ismail” yang kita miliki dapat berwujud sebagai anak, istri yang cantik, harta benda yang banyak, pangkat dan kedudukan yang tinggi, pendeknya segala yang kita cintai, yang sangat kita dambakan, yang kita kejar-kejar dengan mempertaruhkan semua yang kita miliki. “Ismail-ismail” kecil yang kita miliki itu dapat membuat kita terlena dan lalai, sehingga melupakan Tuhan, atau menjauhkan diri kita dari Allah SWT.

 

Firman Allah SWT :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخاَسِرُونَ (المنافقون: 9)

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S. Al-Munafiqun : 9)

Oleh karena itu, berperanlah sebagai Ibrahim. Kalahkanlah “Ismail-Ismail” itu. Artinya, janganlah kau dibelenggu oleh apapun di dunia ini, jangan kau dipalingkan dari Tuhan oleh hal-hal yang pada hakikatnya bersifat semu dan tidak abadi. Kau boleh memiliki apa saja didunia ini dengan halal, kau boleh mengatur dan menguasai dunia ini sebatas kemampuanmu, tetapi jangan sekali-kali dunia yang kau cintai itu menjadikan kamu terbuai dan melupakan Tuhan.

 

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة: 24)

 

Katakanlah : “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara istri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q.S. At-Taubah : 24)

 

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia.

 

Jiwa berkorban yang diajarkan oleh Islam mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi, mengandung ajaran-ajaran kemasyarakatan yang luhur. Korban warisan Ibrahim hendaknya mampu menggugah kesadaran sosial kita, membangkitkan kepekaan sosial kita, kepedulian kita kepada penderitaan orang lain. Kepekaan moral dan ritual kita hendaknya dibarengi dengan kepekaan sosial.

 

Kita barangkali terharu ketika mendengar atau melihat peristiwa-peristiwa tragis yang menimpa sebahagian umat Islam di berbagai pelosok daerah, mereka yang tak berdosa dibantai secara sadis tanpa perikemanusiaan; hati kita tersayat menyaksikan umat kita berbagai tempat yang kini terancam kelaparan, kita tentu terenyuh menyaksikan saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan, kepapaan dan kemelaratan di berbagai pelosok tanah air.

 

Namun, apakah keterharuan dan kesedihan kita hanya berhenti sampai disitu saja? Apakah keterharuan dan keterenyuhan kita tidak dibarengi dengan tindakan nyata?

Inilah masalah yang dihadapi oleh umat Islam. Solidaritas persaudaraan kita masih sebatas perasaan dihati, kepedulian kita kepada orang lain masih sangat verbalistik (dangkal).

 

Ajaran Islam mengenai kebersamaan, ta’awun (tolong menolong dalam kesulitan), sifat pemurah dan kepedulian terhadap al-mustadh’afin (orang miskin, anak yatim, kaum melarat, dan sebagainya) semakin terabaikan oleh umat Islam sendiri. Sebaliknya sifat-sifat individualisme (mementingkan diri sendiri) egoistik, keserakahan, ketidakpedulian terhadap orang lain, dan semacamnya, tampaknya semakin menggejala di kalangan umat Islam sendiri.

 

Mudah-mudahan semangat berkurban yang dibawa oleh ajaran korban dalam Islam, melalui hari ini, dapat merasuk kembali dalam jiwa kita dapat hidup dan bersemi kembali dalam hati kita, sehingga ukhuwah Islamiyah dan ashabiyah Islamiyah (solidaritas Islam) yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad s.a.w., benar-benar dapat kita wujudkan diantara sesama umat Islam dalam arti yang sebenar-benarnya.

 

Untuk mengakhiri khutbah awal ini marilah kita bertekad untuk menjalin tali silaturahmi yang kuat, agar krisis kebersatuan ini dapat segera berakhir, marilah kita menatap masa depan bangsa ini dengan tatapan sinar hidayah, agar tidak bermunculan sikap dan sifat egois, sinisme maupun sifat kekaburan.

 

Semoga Allah memberikan hidayah dan inayahNya kepada kita sekalian Amin.

 

جَعَلَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ. وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ.

عِبَادَ اللَّهِ، اُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَأَحُثُّكُمْ وَنَفْسِي عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ فِي كُلِّ حِينٍ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِوَالِدِيكُمْ وَلِمَشَائِخِنَا وَلِمَشَائِخِكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَافَوْزَ اْلمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَانَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.



0 comments:

Postingan Populer

Mengenai Saya

Foto saya
Jambi, Kota Jambi, Indonesia

Putra Muaro Bungo

Putra Muaro Bungo
Jadilah Diri Sendiri Tanpa Berharap Kepada Manusia

Simpel Aja

Simpel Aja

PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)

My Famili

SELAMAT DATANG DI BLOK

KHAIRUL AKMAN, S.Pd.I KHAIRUL AKMAN, S.Pd.IKHAIRUL AKMAN, S.Pd.IKHAIRUL AKMAN, S.Pd.IKHAIRUL AKMAN, S.Pd.I

Pengikut

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

TERIM KASIH

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DI BLOG KAMI SEMOGA BERMANFAAT